Li Ka-shing, Miliuner Sederhana yang Ekspansif

0
18

Li Ka-shing adalah seorang Pebisnis dan Investor Tajir asal China yang berhasil keluar dari zona kemiskinan masa lalunya. Dengan kerja keras, komitmen, pengetahuan dan pengalaman bisnisnya, ia mmapu menaklukkan dunia hingga ia menjadi penguasaha terkaya dengan kekayaan menacapai US$ 35,4 miliar (Rp 513,3 triliun). Yang menarik, Li membeli semua real estate-nya dengan modalnya sendiri demi mempertahankan utang pribadi yang berada pada titik nol.

“Tidak masalah seberapa kuat atau mampu Anda; Jika Anda tidak memiliki hati yang besar, Anda tidak akan berhasil”. Demikian sepengal kalimat inspiratif itulah yang memberikannya kekuatan bagi Li Ka-shing untuk bangkit dari kemiskinan yang menjeratnya di masa kecil.

Tanpa latar belakang keuangan yang kuat atau pendidikan yang memadai, Li begitu ia disapa berhasil menjadi salah satu pemimpin bisnis papan atas dunia. Menurut data Businessinsider, Rabu (29/8/2018), Li tercatat sebagai orang terkaya ke-23 di dunia dengan kekayaan bersih sekitar US$ 35,4 miliar. Angka tersebut setara dengan Rp 513,3 triliun mengacu kurs Rp 14.500.

Melalui Grup Cheung Kong dan Hutchison Whampoa Limited, Li menjalankan sebuah kerajaan bisnis yang tersebar di 54 negara. Bisnis pun beragam mulai dari produksi semen, real estate, perbankan hingga produksi baja.
Li lahir 29 July 1928 di Chaozhou, China bukanlah berasal dari keluarga kaya, ia berasal dari keluarga yang sangat miskin. Li tidak pernah mengeyam pendidikan yang tinggi bahkan pada umur 12 tahun ia harus berhenti bersekolah karena keluarganya tidak mampu membiayai sekolahnya.

Ia membantu keluarganya dengan bekerja serabutan. Pada usia 15 tahun, ayahnya Li Yun-jing meninggal dunia karena penyakit TBC, sehingga ia bekerja membanting tulang demi menggantikan sang ayah sebagai tulang punggung keluarga.

Pada Waktu itu, kondisi Cina yang sedang dilanda perang hingga Li hijrah ke Hongkong untuk mengadu nasib. Di Hongkong, ia kemudian tinggal di rumah pamannya yang kaya. Namun disana ia selalu dianggap remeh oleh keluarga pamannya. Namun karena itulah, Li berusaha membuktikan diri bisa hidup dengan mandiri.

Di usia 16 tahun, Li bekerja di sebuah pabrik perdagangan plastik. Disana ia bekerja selama 16 jam sehari. Gajinya sebagai karyawan plastik 90 persennya ia berikan kepada ibunya. Beberapa tahun bekerja di pabrik plastik membuatnya banyak memiliki pengalaman mengenai bagaimana mengolah plastik yang baik untuk diperdagangkan.

Meskipun Li putus sekolah pada usia muda dan tidak pernah menerima gelar dari universitas, ia selalu menjadi pembaca yang “rakus” dan sangat menyukai kesuksesannya untuk belajar mandiri.

Salah satunya ia “melalap” habis buku akuntansi Cheung Kong di tahun pertama ia bekerja perusahaan tanpa pengalaman akuntansi, ia hanya belajar dari buku. Bertambahnya wawasan pengetahuan dan industri, Li menganggap kesetiaan dan reputasi sebagai kunci sukses seseorang.

Titik Balik

Terus menerus hidup dalam keterpurukan dan dipandang sebelah mata membuat Li bertekad untuk bisa keluar dari jeratan kemisikinan. Maka, pada tahun 1950, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri di usianya yang ke-22 tahun. Dengan meminjam modal ke sejumlah relasi, ia membangun perusahaan plastik dengan nama Cheung Kong Industries dengan investasi sekitar US$50 ribu (Rp657 juta).

Nama “Cheung Kong” terinspirasi dari Sungai Yangtze di China, di mana aliran sungai tersebut tidak terhitung jumlahnya dan akhirnya saling bertemu. Ini mencerminkan kepercayaan diri sebagai pengusaha terhadap sinergi dan gabungan kekuatan usaha.

Li membayangkan bahwa plastik akan menjadi industri yang booming, dan mimpinya tersebut ternyata benar. Li menunjukkan janji sebagai pemimpin yang visioner saat membuka pabrik plastik. Usaha mainan dan bunga plastiknya dianggap banyak orang sebagai hal yang remeh. Namun, dengan kejeliannya, ia melihat peluang bahwa di negara-negara Barat justru banyak membutuhkan bunga plastik.

Naluri bisnisnya yang bagus membuat perusahaannya berkembang dengan cepat. Li mengerti bagaimana membuat sebuah plastik yang memiliki kualitas yang bagus dengan harga yang murah dan juga terjangkau. Dari sanalah, bisnis yang dianggap kecil tersebut justru melejitkan namanya.
Melihat kondisi perusahaannya yang bagus, Li melebarkan sayap bisnisnya di bidang real estate. Ia kemudian mendirikan perusahaan bernama Cheung Kong pada tahun 1971. Perusahaan ini kemudian juga berkembang dengan cepat.

Pelan tapi pasti, berkat kejeliannya mengamati pasar Li berhasil mendapat banyak keuntungan di bisnis yang dijalaninya. Namanya kemudian semakin terkenal di kalangan para pengusaha disana. Delapan tahun kemudian, Li mengakuisisi perusahaan Hutchison Whampoa Limited dari HSBC. Dalam beberapa tahun ia bisa menjadi seorang produsen, pengembang properti dan investor.

Pada 1972, perusahaan Li mendaftarkan diri di lantai bursa Hong Kong, kemudian menggurita menjadi kekaisaran bisnis yang mencakup lebih dari 50 negara dengan 300 ribu karyawan di berbagai bidang, termasuk real estat, telekomunikasi, pelabuhan, perkapalan, dan ritel.

Proses akuisisi tersebut kemudian menjadikan Li menjadi konglomerat baru di Hongkong. Pundi-pundi uang Li semakin bertambah berkat anak perusahaan Hutchison Whampoa yaitu AS Watson Group yang bergerak dibidang ritel yang memiliki 7.800 toko yang tersebar diseluruh dunia dan beberapa merek ritelnya Watson sudah sangat terkenal di berbagai negara.

Ia kemudian menjual kepemilikan Hutchison Whampoa kepada Orange Mannesman Gruop (O2) dan berhasil mendapatkan keuntungan sebesar 15,2 miliar Dollar. Ia juga berhasil mendapatkan keuntungan dari penjualan sebagian aset Hutchison Telecomunication yang ia jual kepada Vodafone dan mendapatkan keuntungan sebesar 11 miliar dollar.

Li banyak menginvestasikan hartanya di dengan banyak mengakuisisi perusahaan-perusahaan di dunia dan kemudian menjualnya kembali setelah kondisi perusahaan tersebut membaik. Tak puas dengan bisnis yang ada, Li mengembangkan gurita bisnisnya dengan banyak menginvestasikan uangnya di bidang pelabuhan kontainer di seluruh dunia. Ia mengendalikan salah satu operator terminal peti kemas terbesar di dunia hingga berhasil menguasai 13 persen usaha pelabuhan kontainer di seluruh dunia.

Perusahaan Li menguasai 70% lalu lintas pelabuhan dan sebagian besar utilitas listrik serta telekomunikasi di Hong Kong. Ia memiliki saham mayoritas di Husky Energy, sebuah perusahaan Kanada.

Li mendistribusikan kekayaan dan kekuasaannya di berbagai industri serta wilayah geografis. Hal ini menunjukkan bahwa dirinya tidak takut untuk belajar dan bereksperimen di arena baru. akuisisi besar terakhirnya adalah perusahaan telekomunikasi Inggris O2, yang dibeli sebesar US$15 miliar (Rp202,5 triliun).

Di usianya yang menginjak senja, kini Li, beralih profesi menjadi seorang investor dalam bidang teknologi. Beberapa perusahaan teknologi besar telah menjadi tujuan investasinya. Seperti tahun 2012, ia membeli perusahaan gas wales and west utilities seharga 1 miliar dollar. Li juga menginvestasikan uangnya ke facebook milik Mark Zuckerberg.

Setelah benanamkan duitnya di Facebook, baru-baru ini Li kembali berinvestasi di sebuah startup yang bertujuan untuk mengganti telur dengan substitusi tanaman. Ke depan, Li hanya berinvestasi dalam teknologi yang dia anggap potensial dan akan membuat kepemilikannya semakin mutakhir. Hal ini ia lakukan secara konsisten dengan inovasi yang konstan dalam bisnisnya.

investasi di saham dan start up juga mengalami performa sangat baik. Perusahaan pembuat piranti keras gim Razer, yang mendapat investasi dari Li, baru saja melantai di bursa pada tahun lalu. Harga saham perusahaan tersebut melonjak 18 persen setelah memulai debut perdagangannya pada November 2017.

Total kekayaan Li Ki Shing bertambah dengan mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham di perusahaan andalannya yakni Henderson Land Development serta kepemilikan saham di Ping An Insurance dan Country Garden, yang nota bene merupakan pengembang properti terbesar di daratan China.

Saham Country Garden naik 208 persen pada 2017, dan menjadi saham bluechip dengan performa terbaik kedua di Hong Kong. sementara Ping An Insurance menempati peringkat teratas sebagai pemenang terbesar dalam indeks H-share dengan return 109,7 persen untuk tahun ini. Li merupakan salah satu miliarder dan pengusaha paling diperhitungkan di tanah Hong Kong. Ia juga disebut sebagai konglomerat multinasional Hong Kong terkemuka.

Salah satu kunci sukses Li adalah mengatur aset kepemilikannya secara strategis untuk memastikan keamanannya meski keadaan ekonomi yang tidak menentu. Ia mengantisipasi ekonomi tinggi dan rendah.Meskipun memiliki banyak aset kepemilikan, sifat hemat yang dilakukannya selama masa kecil telah terbawa ke dalam perjalanan bisnis Li .

Salah satunya adalah kebijakan untuk mengoperasikan perusahaan tanpa utang berarti bahwa perusahaannya beroperasi dengan menggunakan utang sekecil mungkin. Li sendiri membeli semua real estate-nya dengan menggunakan modalnya sendiri demi mempertahankan utang pribadi yang berada pada titik nol.

Hidup Sederhana

Li masuk dalam daftar 10 orang terkaya di dunia versi majalah Forbes pada tahun 2012 dan juga bertengger sebagai orang terkaya di benua Asia. Menurut data Businessinsider, Rabu (29/8), Li tercatat sebagai terkaya ke-23 di dunia dengan kekayaan bersih sekitar US$ 35,4 miliar. Angka tersebut setara dengan Rp 513,3 triliun mengacu kurs Rp 14.500.

Kehadiran para pebisnis tajir dunia ini merepresentasikan kurang dari satu persen. Namun, kekayaan mereka sama dengan 13 persen dari seluruh miliuner dunia. Meski menjadi langganan selalau masuk dalam daftar orang terkaya, Li lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tinggal di Hongkong meskipun ia juga memiliki kewarganegaraan Kanada. Ia senang menghabiskan uang untuk investasi dan bukan pada hal-hal materi. Secara materi, Li ingin dianggap sebagai orang yang sederhana.

Li selalu tampil dengan pakaian yang sederhana tidak glamour. Begitu pula dengan arloji yang biasa dia gunakan, yaitu merek Seiko dengan harga USD50 atau sekitar Rp. 687.000. Jam tangan ini telah ia pakai selama beberapa dekade. Padahal pengusaha seperti dirinya bisa saja membeli Rolex, Panerais atau Patek Phillippe.

Belakangan ia mengganti jam tangan Seiko-nya dengan Citizen Eco-Drive bertenaga surya alias tanpa baterai seharga USD400 alias Rp5,5 juta. Mengenai jam tangan ini, ia berujar, “Jam tangan mahal tetap saja tidak bisa mengubah waktu. Dengan jam tangan ini, saya tidak perlu berhati-hati seperti memakai jam tangan ratusan juta,” katanya.

Sejak ia menjadi buruh pabrik plastik dan memberikan 90% gajinya pada ibunya, jiwa filantropis telah tertanam dalam dirinya. LI mendirikan yayasan Li Ka-Shing yang ia dirikan pada 1980, telah memberi hibah dan beasiswa untuk bidang pendidikan, perawatan kesehatan, dan kemanusiaan. Ia berjanji di masa akhirnya untuk memberi sepertiga dari kekayaannya untuk tujuan amal.

Kisah pengunduran diri laksana sebuah bab dari “buku” bernama konglomerat terbesar dan paling sukses di Hong Kong.
Mungkin salah satu faktor terpenting yang berkontribusi terhadap kesuksesan Li adalah hasrat yang ia rasakan untuk setiap karyanya. “Kenikmatan yang paling penting bagi saya adalah bekerja keras dan menghasilkan lebih banyak keuntungan.” kata Li.

Dalam masa pensiunnya, Li tetap sibuk dengan setiap jadwal pekerjaannya. Suami dari Chong Yuet Ming ini memiliki anak bernama Victor Li Tzar-kuoi dan Richard Li. Li telah menyerahkan tahta kebesarannya kepada putra tertuanya yang bernama Victor Li. Sedangkan Richard Li tercatat sebagai orang terkaya urutan 19 di Hong Kong dan urutan 480 orang tertajir sedunia. Catatan Forbes, hingga 23 Oktober 2018, kekayaan Li mencapai US$ 4,4 miliar.

Meskipun usianya telah berusia 90 tahun, Li tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambatnya kesuksesan yang terus ia raih.Li memutuskan pensiun dari posisinya sebagai chairman CK Hutchison Holdings Ltd di hari jadinya ke ke-90, Juli 2018.

Generasi Kedua

Jauh sebelum Li pensiun, ia telah menyiapkan generasi penerus tongkat estafet bisnisnya. Putra sulung Li Ka-shing, Victor Li ini siap untuk mewarisi kerajaan bisnis, mulai dari telekomunikasi hingga ritel dan pelabuhan, di lebih dari 50 negara di seluruh dunia. Putra pertamanya yang telah bekerja sama dengannya selama 30 tahun dan ikut mengelola bisnisnya secara penuh harus diperhitungkan sebagai penggantinya.

Victor Li, 54, sejal 10 Mei 2018 telah menjabat sebagai Chairman of CK Asset Holdings dan Chairman of CK Hutchison Holdings. Sebelumnya ia menjabat sebagai deputy chairman CK Hutchison dan Cheung Kong Property Holdings Ltd. Dia juga bertindak sebagai chairman pada unit kelompok CK Infrastructure Holdings Ltd. (CKI) dan CK Life Sciences Int’l Holdings Inc.

Victor bergabung dengan Cheung Kong pada tahun 1985 dan dengan mantap merambati berbagai posisi di kerajaan ayahnya selama bertahun-tahun, bersama dengan adiknya, Richard Li. Pada tahun 1996, Victor menjadi berita utama media saat dia diculik gangster asal China. Pria yang menjalani studinya di Stanford University ini sangat berperan dalam memimpin CKI, yang telah ia pimpin sejak melakukan listing dua dekade yang lalu. Victor dinobatkan sebagai pewaris kerajaan Li Ka-shing pada tahun 2012 dan sejak itu telah mengemban lebih banyak tanggung jawab.

Berita sebelumyaJokowi Tegaskan Penerima Sertifikat Tanah Hanya Dikenai Biaya Patok
Berita berikutnyaJokowi Temui Quraish Shihab Bahas Islam Moderat