Generasi Millennials yang Sukses Jadi Dosen, Advokat dan Raih Rekor Muri

0
29

Muda, energik dan penuh semangat demikian gambaran sosok generasi muda zaman now yang penuh prestasi Muhammad Rullyandi, SH., MH. Rully begitu ia disapa nampak segar saat bertemu berkabar.id di Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jakarta belum lama ini.

Dengan setelan jas warna abu-abu dan sepatu pantopel hitam. Rully begitu semangat menceritakan perjalanan karirnya sebagai dosen, advokat hingga saksi ahli di banyak pengadilan di usianya yang masih sangat muda. Tak heran pria yang genap berusia 32 tahun pada 26 Juli lalu ini diganjar penghargaan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) Nomor: 8403/R.Muri/Iv/2018 atas rekor “Ahli Hukum Tata Negara Termuda Sebagai Saksi Ahli Di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung”, yang diberikan 15 April 2018.

“Syukur alhamduluillah apa yang saya seriusi dan kerjakan selama ini diaspresiasi MURI dengan memberikan penghargaan Ahli Hukum Tata Negara Termuda,” ujar lulusan tercepat (3,5 tahun) Fakultas Hukum Universitas Pancasila (S-1) Program Kekhususan Hukum Tata Negara, (2005 – 2009) ini.

Cinta pada Negara.

Prestasi gemilang yang telah diraih Rully tidaklah datang secara tiba-tiba. Rully telah mempersiapkan diri sejak hari pertama ia masuk kuliah di program kekhususan Hukum Tata Negara yang hanya diminati 3 orang dari ratusan mahasiswa baru di angkatanya.

“Di hari pertama kuliah saya mantap memilih jurusan Hukum Tata Negara karena cita-cita saya ingin jadi negarawan di Negeri ini. Di benak saya program yang saya pilih adalah hukum untuk mengatur Negara sehingga ini menjadi salah satu ilmu dasar untuk menjadi Negarawan,” terang pria keturunan Minang yang lahir di Jakarta ini.

Semangatnya kian bergelora pasca ia mendalami keilmuan hukum tata Negara hingga ia meraih gelar Sarjana Hukum (SH) tercepat dalam waktu 3,5 tahun.

“Saya ambil judul skripsi Mekanisme Impeachment Presiden Dan/Atau Wakil Presiden Berdasarkan Sistem Pemerintahan Presidensial Menurut Uud 1945 Pasca Amandemen. Saya menyampaikan bagaimana Presiden jangan sampai diberhentikan sebelum 5 tahun, bagaimana Presiden tidak digoyang-goyang DPR sebagai lembaga politik. Skripsi ini saya mengambil pendekatan Presiden dalam perspektif hukum dan kekuasaan politik,” papar anak bungsu dari 3 bersaudara ini.

Lepas menyelesaikan S-1, Rully diminta menjadi Dosen Dosen Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum Universitas Pancasila. Selain itu ia juga bekerja sebagai advokat partner litigation di kantor hukum BRIS & Partner.

Kecintaannya akan dunia hukum tata Negara menarik Rully kembali untuk mengambil program magister ilmu hukum (S-2) di Fakultas Hukum Univeritas Indonesia konsentrasi hukum tata negara. Kampus yang selama ini menjadi dambaannya untuk menimba ilmu.

“Akhirnya saya diterima juga di UI. Saking serius dan fokus kuliah, saya tinggakan kerjaan di BAWASLU RI,” kata alumnus SMA 3 Setia Budi Jakarta ini.

Sama seperti skripsinya, Rully kembali mengambil judul tesis Pembatasan Kekuasaan Presiden Terkait Pengangkatan Dan Pemberhentian Jaksa Agung Oleh Presiden Dalam Upaya Mewujudkan Independensi Kekuasaan Penuntutan Jaksa Agung Berdasarkan Perspektif Hukum Tata Negara. Kali ini Rully mengambil pendekatan hubungan Presiden dan penegakan hukum serta pembatasan kekuasaan Jaksa Agung.

“Jaksa Agung itu, diangkat Preisden sehingga jabatannya setara Menteri namun kekuatannya sangat besar. Ia bisa menghentikan pekara yang bisa mencederai Negara hukum sendiri, sehingga perlu ada pembatasan dari Presiden,” ujar pria yang hobi main basket ini.

Pria yang sedang melanjutkan studi S-3 Doktor Ilmu Hukum Program Kekhususan Hukum Tata Negara di Universitas Padjajaran Bandung ini kembali mengambil judul disertasi Kewenangan Atributif Presiden Selaku Pemegang Kekuasaan Pemerintahan Dan Kepala Negara Dalam Perekonomian Nasional Berdasarkan Pandangan Ideologi Pancasila.

“Kali ini saya mengambil pendekatan Presiden dengan ekonomi. Saya pikir untuk mewujudkan masyarakat yan adil dan makmur sejahtera menjadi tanggung jawab Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi Negara. Saya mau menguji kebijakan ekonomi mulai dari Presiden Soeharto hingga Jokowi. Mana yang betul-betul mengunakan kekuasan untuk membangun perekonomian dan kesejahteraan rakyat,” papar ayah satu anak ini.

27 Tahun Jadi Saksi Ahli

Lepas meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Indoensia, Rully dipercaya sebagai Senior lawyer dikantor hukum OC. Kaligis & Associates Advocates & legal Consultant. Di bawah bimbingan Advokat yang telah banyak mendidik pengacara, pakar hukum, Ketua MK, hingga Menteri ini, Rully ditempa dan diberikan kepercayaan lebih. Kebetulan saat bergabung di kantor OC Kaligus tahun 2012, ia kembali mengingat cita-citanya untuk menjadi seorang pakar hukum tata Negara 5 tahun ke depan.

Dengan kerja keras, fokus dan totalitas dalam bekerja, Rully ditunjuk Kaligis untuk menjadi seorang Saksi Ahli Pakar Hukum Tata Negara di 2014. “Saat itu usia saya masih 27 tahun, Pak Kaligis manggil saya. “Kau yang jadi ahli, saya tahu kamu dosen, saya percaya kaspasitas kamu. Rully harus siap, Saya percaya kamu bisa,” ujar Rully menirukan ucapan Kaligis waktu itu.

Rully yang berusia masih sangat muda itu harus berbicara di depan mimbar di Mahkamah Konstitusi di hadapan 9 hakim bergelar professor, doctor. Ia pun harus menjawab pertanyaan dari pemintah, DPR, pemohon, hakim. “Itu pengalaman yang luar biasa bagi saya. sebagai anak muda ini saya harus gunakan kesempatan ini untuk menunjukakn saya siap hadapi tantangan,” jelasnya.

Tak hanya sekali, Rully kembali diminta Kaligis menjadi saksi ahli untuk perkara tindak pidana korupsi di Manado hingga menjadi saksi ahli di PTUN yang berujung penangkapan anak buah Kaligis.

Hingga di usianya yang baru 31 tahun tak kurang dari 33 kali Rully memberikan keterangan ahli di berbagai pengadilan di Indonesia mulai dari MK, MA, Pengadilan Tipikor, Pengadilan Negeri, Peradilan, Pra Peradilan, PTUN, Peninjauan Kembali, Kepolisian, dan lainnya.

“Hingga akhir tahun 2018 dimana usia saya 32 tahun saya sudah 42 kali dijadikan Saksi Ahli di banyak pengadilan. Mungkin hanya saya, anak muda yang diberi kesempatan berkiprah sebagai Saksi Ahli yang memiliki kompetensi,” papar pria gagah ini.

Berbagai kasus pernah ia tangani mulai dari perusahaan multinasional, instansi, pemerintahan, BUMN, kepala daerah, transportasi online, hingga kasus masjid.

“Semua berkesan, karena setiap kasus tidak pernah ada yang sama, memiliki tantangan masing-msing. Dalam memberikan keterangan ahli, saya tidak pernah memandang berapa saya akan dibayar, melainkan saya akan membela dan memperjuangkan keadilan. Bahkan ada beberapa kasus yang saya tidak dibayar,” ungkap dosen favorit di Fakultas Hukum Universitas Pancasila itu.

Raih Rekor Muri

Dengan seabrek kiprahnya membela keadilan di pengadilan, Rully diberikan penghargaan MURI sebagai Ahli Hukum Tata Negara Termuda Sebagai Saksi Ahli Di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung pada April 2018.

“Mungkin saya dinilai sebagai anak muda yang mampu menjadi Saksi Ahli di usia muda (27 tahun), padahal umumnya mereka yang dianggap sebagai Ahli berusia 40 tahun ke atas,” jelas pria yang sedang menempuh study doktoralnya (S3) Hukum di Universitas Padjajaran Bandung ini.

Dengan profesinya sebagai akademisi, advokat dan pakar hukum tata Negara, Rully ingin menunjukkan jika usia tak menjadi halangan meraih prestasi cemerlang di usia muda. Rully yang memiliki passion memberikan pemikiran, kerja keras demi bangsa dan Negara ini berharap banyak anak muda yang terinpsirasi dengan langkah dan kerja kerasnya selama ini.

“Sebagai anak muda saya menempatkan diri sebagai negarawan, berfikir untuk bangsa dan Negara. Saya gak mau hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi gunakan untuk kepentingan bangsa dan Negara,” papar pria yang juga anggota Partai Nasional Demokrat ini.

Dipenghujung perbincangannya dengan berkabar.id, Rully berpesan pada anak muda agar memanfaatkan waktu sebaik mungkin di usia muda. Karena waktu tak akan pernah kembali.

“Jadikan dirimu anak muda berprestasi harapan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Anak muda harus bekerja keras dan jangan hilangkan kesempatan karena keterbatasan uang dan waktu, apalagi bermalas-malasan,” jelasnya.

Rully juga menegaskan jika anak muda harus bekerja keras, berpikir lebih cepat karena diberi energi lebih untuk melakukan banyak hal yang positif apapun profesinya.

“Ini zamannya millennials, banyak anak muda yang telah menunjukkan prestasinya baik sebagai politisi, akademisi, hukum maupun bisnis dan digital,” pungasknya.

Ditempa Sejak Kecil

Apa yang diperoleh Rully saat ini bukanlah hal mudah. Banyak perjuangan yang telah dilaluinya. Rully tak menampik jika kedewasaan yang diperolehnya di usianya yang masih sangat muda tak lepas dari teladan dan sikap disiplin yang diperolehnya sejak kecil.

“Bapak saya sangat keras dan disiplin dalam hal pendidikan. Orangtua selalu cek nilai raport bahkan hingga SKS dan IPK kuliah, dari situ saya tahu betapa pentingnya pendidikan untuk masa depan,” jelasnya.

Selain itu terbiasa hidup sederhana menjadikan Rully kecil menjadi sosok yang mandiri. “Dari kecil saya diajarkan hidup mandiri, dengan belajar sebaik mungkin, kasihan orangtua cari uang. Dari situ saya nggak mau bandel dan harus menunjukkan keberhasilan pada keluarga. Sejak kecil saya sudah tidak berfikir seperti anak-anak seusia saya yang dimanja dengan materi. Orangtua mengajari saya untuk hidup sederhana agar kebutuhan tercukupi. Bahkan saya pernah tidak bisa ke sekolah karena tidak ada transport,” jelasnya.

Kerasnya hidup membuat Rully memacu semangatnya untuk bisa selesai kuliah dalam waktu singkat. Karena itu ia bisa menyelesaikan studi Strata 1 (S-1) dalam waktu 3,5 tahun.

“Sempet saya berfikir mau nyambi kerja, tapi setelah diskusi dengan keluarga kalau saya kerja part time kuliah justru makin lama, makanya saya disarankan fokus kuliah, saya belajar habis-habisan agar cepat selesai,” terangnya. Namun untuk biaya S-2 Rully mengatakan sudah tidak mengandalkan biaya orangtua.

Dua Kali Gagal Masuk UI

Terbiasa hidup disiplin dan lebih banyak mencurahkan perhatian pada pendidikan tak lantas membuat mulus masuk ke kampus idaman yakni Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Meski gagal UMPTN masuk UI tak membuatnya putus asa. Rully memilih mengkuti tes UMPTN tahun berikutnya dengan memperkaya ilmu dengan les privat dan berbagai kursus.

Namun apa dikata, meski telah mempersiapkan diri selama setahun, ia tak juga di terima di Fakultas Hukum UI melalu jalur UMPTN. Keinginan besarnya kuliah di UI karena sang ayah dan kakak pertamanya lulusan UI, kakak keduanya juga kuliah di UI.

“Saya penasaran, lalu tanya ke UI, Dosen UI paling banyak ngajar dimana, ternyata banyak yang mengajar di Universitas Pancasila. Akhirnya saya ambil kulaih S-1 di Universitas Pancasila. Saya baru bisa kuliah di UI itu saat S-2, bangganya bukan main bisa pakai jas kuning,” ujarnya tertawa.

Nonton Bioskop hingga Ke Pasar Malam

Di tengah kesibukannya sebagai Dosen, Advokat juga Pakar Hukum Tata Negara, Rully yang menikahi mantan mahasiswinya, Fenny Eka Widokarti empat tahun lalu ini mengaku selalu menyempatkan diri berkumpul bersama istri dan putranya.

Ayah dari Franklin Klein Rullyandi ini kerap menghabiskan waktu bersama keluarga di hari Sabtu dan Minggu sekadar untuk jalan-jalan sekitar Jakarta, nonton di bioskop, makan di luar, pergi ke taman rekreasi seperti Ancol, TMII dan lainnya.

Sementara itu saat weekday jika ia memiliki waktu senggang, ia kerap pulang cepat dan mengajak anak istrinya jalan-jalan sore hingga mengunjungi pasar malam.

“Saya ngajarin anak bahwa hidup selamaya enak-enak aja, karenanya saya suka ajak anak istri saya naik TransJakarta, CommuterLine, naik motor, jadi nggak melulu naik mobil pribadi. Saya juga ingin menampilkan realita kehidupan yang gak selalu bagus agar anak saya punya rasa empati dan tidak besar kepala,” pungkasnya.

Berita sebelumyaPrabowo Dikepung Massa di Ambon
Berita berikutnyaPengamat Ini Sebut Pemerintah Blunder Ambil Alih Freeport Dengan Utang