Eat, Sleep and Dream with the Market Kunci Sukses The King of Property

0
34

Born to be a winner demikian kata yang tepat disematkan pada sosok pekerja keras bernama Ir. Eddie Muljawan Soetedjo, CPA. Betapa tidak, ditengah kondisi sesulit apapun Senior Division Director ERA Bandung yang dikenal sebagai The King of Property ini tetap mampu menunjukkan prestasinya. Belum lama ini ia diganjar dua penghargaan sekaligus yakni Top Of The Month Bandung bulan September dan Oktober 2018 dari ERA Real Estate.

Eddie nampak semangat saat bertemu berkabar.id di Jakarta Design Center, belum lama ini. Dalam balutan setelan jas biru tua lengkap dengan deretan berbagai lencana penghargaan yang pernah diraihnya, Eddie nampak sumringah menceritakan bila ia baru saja dianugrahi dua penghargaan sekaligus.

“Puji Tuhan saya sangat bersyukur kembali mendapat penghargaan Top Of The Month Bandung dua bulan berturut-turut,” ujar Eddie sambil menunjukkan dua penghargaan yang baru diterimanya itu.

Sejak bergabung 1995 sebagai Agen ERA Bandung dan memfokuskan diri sebagai fulltimer tahun 2000 berbagai prestasi dan penghargaan selalu diraih Eddie tiap tahun. Di antaranya 4x Million Rupiah Club, 1x Senior Million Rupiah Club, 9x Multi Million Rupiah Club, 3x STAR Club, 3x Double STAR Club, 1x Triple STAR Club, 15x Top 25 MA Winner’s Circle hingga 16x TOP Regional Marketing Associate.

“Selama 18 tahun saya fokus, hanya 2 kali saya terlewat TOP Regional Marketing Associate, karena tahun 2003-2004 saya sempet ikut MLM dengan downline sampai 1.000 orang. Setelah balik lagi ke ERA, come back lagi TOP Regional Marketing Associate,” bangganya.

Tahun 2017 Eddie mampu meraih prestasi terbanyak dan masuk peringkat 3 besar penjualan secondary market secara nasional. Berada di Bandung dengan pertumbuhan properti dan penjualan jauh di bawah Jakarta, Surabaya dan kota besar lainnya, Eddie cukup berbangga hati. Maklum namanya selalu menyelinap di antara Agen Properti Era Jakarta dan Surabaya.

“Harapan saya ke depan tetap menjadi Agen ERA terbaik asal Bandung di antara dominasi Agen ERA dari Jakarta dan Surabaya dengan meraih Top Producer 2018 hingga Top 5 Nasional,” harapnya.

Kunci sukses Eddie bisa sejajar dengan Agen Properti Jakarta dan Surabaya adalah membidik properti-properti yang berada di jalan utama Kota Bandung dengan kisaran harga puluhan miliar.

“Spesialisasi saya sekitar pusat kota Bandung, sehingga nilai volumenya juga besar. Hanya saja butuh effort dan ekstra kesabaran, apalagi karakter orang Bandung tidak mudah memutuskan jual beli properti dalam nilai besar seperti Jakarta dan Surabaya,” jelasnya.

Eksis Ditahun Sulit

Eddie mengatakan tahun 2018 adalah tahun yang cukup berat untuk penjualan bisnis properti. Meski harga telah terkoreksi (turun, -red) 20-30% dari tahun 2014 namun banyak pebisnis properti yang mengeluhkan penjualan properti baru maupun secondary. Namun ditengah masa sulit sekalipun, dengan dedikasinya selama 23 tahun di bidang penjualan properti menjadikan Eddie mampu melewati berbagai kendala dan masalah yang menghadang.

“Berbagai masalah dan kendala itu selalu ada, tapi bagaimana pinter-pinter kita menyikapinya,” cetusnya enteng.

Menurut Eddie tugas utama Property Agent adalah menjadi jembatan ego antara pihak penjual dan pembeli demi terwujudnya suatu transaksi. Pria yang sangat memahami profesinya sebagai jembatan kedua belah pihak yang memiliki kadar ego tinggi, tak jarang ia harus merendahkan hati, guna mencari titik temu dan benang merah hingga terciptanya transaksi.

Banyak lika-liku yang telah dilaluinya menghadapi ribuan orang yang pernah menjadi client-nya. Mulai dari ketidakcocokan harga, teknis pengosongan properti, urusan surat dan sertifikat, ahli waris, mekanisme pembayaran, adanya deadline waktu dari penjual maupun pembeli serta waktu proses birokrasi di pemerintahan.

“Bertemu dengan 1001 orang berarti saya harus siap menghadapi 1001 karakter yang berbeda-beda. Tiap transaksi itu unik, jadi jika ada 10 transaksi, berarti ada 10 problem yang berbeda pula yang harus dipecahkan. Apalagi jika nilai yang ditransaksikan besar (puluhan miliar, -red) penjual dan pembeli sangat berhati-hati. Kadang ini perlu effort besar dari saya untuk meyakinkan penjual dan pembeli agar mereka percaya pada saya demi mulusnya transaksi,” jelas pria berkulit putih ini.

Hal utama yang paling banyak dihadapi adalah persoalan harga. Menurutnya sudah lumrah pihak penjual menginginkan harga jual yang tinggi bahkan diatas harga pasar. Sementara calon pembeli tentu menginginkan membeli properti dengan harga yang terjangkau bahkan miring atau dibawah harga pasar. Agar properti cepat terjual, Eddie selalu membuat analisa harga pasar di kawasan properti tersebut.

“Makanya saya selalu pasang mata, pasang telinga properti mana saja di lokasi tersebut yang laku terjual dan berapa harganya. Harga itu jadi patokan harga pasar di lokasi tersebut,” jelasnya.

Setiap ada yang mau titip jual properti, langkah pertama yang Eddie lakukan adalah menanyakan beberapa hal pada pihak penjual. Seperti alasan menjual, keberadaan sertifikat, hingga akan pindah kemana. Dari 3 pertanyaan awal ia bisa memperoleh gambaran seberapa urgent orang tersebut menjual propertinya.

Kepada pihak penjual, ia selalu menjelaskan jika sejumlah propeti yang terjual saat ini adalah properti dengan harga dibawah harga pasar (below the market). Dengan demikian ia yang harus meyakinkan pihak penjual hingga disepakati nilai yang mendekati harga pasar.

“Dari beberapa calon penjual properti yang saya temui, saya prioritaskan yang benar-benar serius ingin menjual propertinya. Kalau mereka kontak saya 1-2 hari berarti orang tersebut butuh menjual propertinya. Ini yang saya prioritaskan,” paparnya.

Setelah ia mendapatkan penjual serius, langkah berikutnya adalah mencari calon pembeli potensial yang sesuai dengan properti yang akan dijualnya. Eddie yang telah bergumul dengan profesi lebih dari 2 dekade ini telah memiliki list calon client hingga 6 ribu orang.

“Kuncinya saya sortir dari ratusan orang yang potensial, jadi puluhan, dari puluhan saya sortir lagi jadi 2-3 orang yang serius pada properti yang ditawarkannya,” jelas Eddie.

Strategi berikutnya yang Eddie gunakan agar sukses menjual properti adalah bagaimana kepintarannya mengemas properti yang akan dijualnya dengan kemasan yang sangat meanrik.

“Pertama saya pasang harga sekian, kalau kurang respons, saya nego dengan penjual sehingga harga bisa disesuaikan dengan harga pasar bahkan lebih murah. Saya pernah jual properti tadinya Rp 15 miliar, lalu turun ke 13 miliar dan akhirnya diturunkan lagi jadi Rp 11,5 miliar. Alahamdulillah ada yang serius mau lihat,” jelasnya.

Eddie dengan senang hati membagi rahasia suksesnya untuk tetap bisa eksis di profesinya sebagai Agen Properti ditengah masih lesunya bisnis properti.

“Di bisnis apapun, kita harus eat, sleep and dream with the market. Kita harus menyelami, tidur bareng, dan merasakan apa yang terjadi dengan pasar,” ungkapnya.

Jadi Mediator

Selain harga, kendala dan masalah lain yang kerap dihadapi adanya unsur ketidakpercayaan pihak penjual kepada pembeli yang berakibat notaris tidak dipercaya untuk menyerahkan sertifikat pada BPN (Badan Pertanahan Nasional). Sudah menjadi standar calon pembeli perlu cek keabsahan sertifikat, IMB dan surat-surat lainnya pemilik properti di BPN melalui notaris yang ditunjuk. Tak sedikit pihak penjual ragu hingga harus didampinginya menyerahkan sertifikat ke BPN.

“Kalau pihak penjual khawatir menyerahkan sertifikat pada BPN, transaksi nggak akan terjadi. Karena pihak pembeli baru akan membayar uang muka jika sertifikat telah diperiksa BPN. Kalau tidak ada trust pada kita sebagai Agen, ya gak akan ada transaksi. Disinilah tugas berat seorang Property Agent,” paparnya.

Masalah berikutnya yang kerap dihadapi adalah jika pasangan suami istri yang sedang dalam proses cerai ingin menjual propertinya menjadi tantangan tersendiri. Begitu juga dengan birokrasi yang prosesnya memerlukan waktu meski saat ini sudah online.

“Pokoknya banyak deh yang ‘lucu-lucu’ yang saya hadapi selama 23 tahun ini. Tapi intinya di masa sesulit apapun kita harus tetap eksis,” ujarnya.

Salah satu keunggulan Eddie adalah selalu memberikan problem solving bagi client-client-nya yang umumnya dihindari Agen lain.

“Kita ini harus memecahkan masalah orang lain, menjembatani dua ego penjual dan pembeli hingga memberi suggest atau advise bila diperlukan. Nggak jarang juga kita dijedotin, dimaki-maki atau jadi tempat sampahnya pembeli dan penjual. Kita harus sabar! Jika tidak memberikan problem solving, hanya akan hit and run. We are consultant not salesman. Otaknya harus dibalik, jangan ngejar uang, tapi berikan solusi, dan komisi/fee akan ikut atas kerja keras kita,” jelas penulis buku The King of Property ini.

Sebagai seorang Agen yang telah berpengalaman Eddie tahu benar bagaimana ia harus merendahkan diri terhadap klien, sabar, ulet, bekerja dengan hati yang tulus serta tak pernah berhenti menambah wawasan. Eddie rutin mengkuti training baik di internal ERA hingga dari luar seperti Anthony Robbin, Tung Dasem Waringin, James Gwee, Merry Riana dan Kelas Panangian School of Properti.

“Saya teringat kata-kata Bruce Lee: Anda lebih takut pada patarung yang melatih 1 jenis tendangan 1.000x daripada 5 jenis tendangan 1.000x, karena Anda akan menjadi expert. Begitu juga dengan kata-kata Panangian: kalau mau dicari orang jadilah expert di salah satu bidang, makanya saya terus perdalam ilmu di bidang properti,” bebernya.

Senang Berbagi

Meski telah memiliki jam terbang banyak, namun penulis buku The King of Property 36 Secrets of Powerful Closing ini tak pernah bosan untuk terus menambah ilmu dan update informasi terbaru hingga berbagai strategi marketing yang mendukung kesuksesanya. Karena itu, Eddie selalu menyempatkan diri mengikuti seminar, training, motivasi hingga mengikuti acara-acara yang digelar berbagai marketer handal ternama baik dalam dan luar negeri.

Bukan hanya itu, Eddie sebagai author buku The King of Property sudah memasuki cetakan yang kedua akan lebih sering membagi ilmunya. Yang mana buku yang baru di launching bulan Agustus 2018 cetakan pertamanya sudah sold out Gramedia dan toko buku lainnya.

“Tahun 2019 saya akan sharing pada Agen-Agen dari berbagai daerah di tanah air melalui wadah AREBI (Asosiasi Real Estate Broker Indonesia) disamping memberikan seminar, pelatihan dan motivasi di internal ERA sendiri,” paparnya.

Eddie mengatakan bagi seorang Agen, edukasi adalah suplemen yang sangat diperlukan bagi para pemasar. Selain dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan juga meningkatkan daya kompetensi akan kerasnya persaingan dari Agen luar negeri yang akan mulai merangsak masuk Indonesia. “Saya ingin Property Agent memiliki standar dalam bekerja yang sangat penting dimiliki seorang Agen,” pungkasnya.

Eddie berpesan agar jangan pernah mengatakan diri Anda tidak bisa, atau tidak mungkin. Menurutnya selama ada kemauan belajar dan mengaplikasikan di lapangan, tidak ada yang tidak mungkin.

“Jika ada keinginan kuat, kesempatan akan terbuka. Jangan pernah menyerah, karena Tuhan pasti kasih jalan,” papar pria yang ingin menjadi seperti begawan properti Ir. Ciputra itu.

Eddie kurang menyukai orang yang mudah menerima nasib tanpa mau berusaha. Seperti dalam kondisi sulit saat ini yang dikeluhkan banyak orang, menurutnya saat ini adalah waktunya belajar untuk kreatif dan melakukan terobosan. Terakhir ia memberikan quote yang cukup mendalam,

“Jika Anda lahir dari orangtua miskin, Anda tidak bisa menyalahkan orangtua. Namun jika Anda mati miskin ya..salahkan diri Anda sendiri.”

Berita sebelumyaPengamat Ini Sebut Pemerintah Blunder Ambil Alih Freeport Dengan Utang
Berita berikutnyaKPU: Selama Nyaleg, Advokat Dilarang Praktek