Harga Rumah Second Lagi Tertekan, It’s Time to Buy

0
11

Penjualan rumah secondary (second), khususnya yang ditawarkan lewat daring mengalami penurunan harga antar 20% – 60%.

Salah satu sub sector yang terkena imbas dari pelemahan bisnis tersebut adalah perumahan secondary (Second). Bahkan, sejumlah pelaku bisnis mengaku jika harga jual rumah bukan baru ini bisa terkoreksi antara 20% hingga 60%.

Hal ini turut diamini sejumlah broker dan konsultan properti yang mengakui bahwa harga rumah di pasar secondary memang tengah terkoreksi siginifikan pada tahun ini. Kawasan DKI Jakarta, misalnya. Harga rumah second di ibu kota saat ini sudah terkoreksi sekitar 5%-20% sejak awal tahun 2018. Bahkan, diprediksi pelemahan harga tersebut akan berlanjut hingga awal tahun 2019.

Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya harga rumah second di pasaran lebih dikarenakan minat beli masyarakat yang masih rendah, terutama di kelas menengah yang diperkirakan tidak dapat menjangkau harga yang ditawarkan oleh broker.

Selain itu, melemahnya harga rumah second di pasaran tak terlepas dari situasi politik di tahun 2019, yang membuat para pengembang, investor atau pun end user menunda pembelian sambil mengamati situasi ekonomi di tahun-tahun mendatang.

Tak hanya itu, lesunya pasar secondary disebabkan oleh jumlah pasokan yang besar sejak tahun 2009 hingga tahun 2012 lalu. Kala itu, harga properti meningkat hingga 50%. Maka tak heran, bila harga rumah second di pasar saat ini melemah.

Sejalan dengan fakta tersebut, General Manager Sales Rumah123 Maria Herawati Manik, mengatakan, penjualan rumah second memang melemah, tetapi jika jika dilihat range penurunannya, sebenarnya tidak terlalu drastis dibandingkan rumah baru.

“Tren rumah secondary sejak 2015 bagus sekali, sejak 2016 sudah mulai menurun karena kondisi ekonomi. Namun jika ditarik garis mediannya, penurunan tidak terlalu signfikan,” katanya.

Herawati melanjutkan bahwa berdasarkan listing rumah123.com, agency yang terdaftar berjumlah 12.000, sementara listing untuk rumah second sudah lebih dari 800.000 listing. Oleh karena itu, penjualan rumah second dari tahun 2015 hingga 2018 mengalami kenaikan kurang lebih 10 hingga 15 kali lipat melalui situs properti tersebut.

Untuk porsi pembelian rumah, katanya, investor lebih mendominasi. Berdasarkan pencarian terbanyak, lima lokasi favorit rumah second adalah Tangerang, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Bekasi, dan Depok.

Harga yang paling banyak dicari yaitu antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar. “Mayoritas pembeli masih mencari di bawah Rp1 miliar, itu menandakan daya beli masyarakat masih di harga segitu,” tambah Maria.

Senada dengan Maria, Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) DKI Jakarta, Clement Francis, mengatakan penjualan rumah secondary selama kuartal III/2018 mengalami penurunan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. “Kondisi penjualan mengalami stagnasi pada kuartal III/2018,” kata Clement.

Sementara itu Ketua Umum AREBI, Lukas Bong, menuturkan, harga rata-rata rumah second menengah di Jabodetabek bervariasi mulai dari Rp500 hingga Rp2 miliar. Untuk kawasan Cibubur (Jakarta Timur), misalnya dipatok Rp 1 miliar, Kawasan Kelapa Gading (Jakarta Utara) dipatok dari harga Rp 2 Miliar dengan luas 90 Meter, rumah second bertipe rumah sederhana plus dipatok mulai harga Rp 450 juta di kawasan Pamulang (Tangerang Selatang). Sedangkan untuk hunian vertikal di wilayah Cinere dan Depok mulai Rp 500 juta, dan di wilayah Bekasi dibanderol mulai Rp 500 juta.

Adapun, wilayah yang potensi penurunan harga paling banyak adalah Bekasi dan Serpong. Sebab, jumlah investor di dua lokasi ini beberapa waktu terakhir sangat banyak. Hanya saja, dia merekomendasikan, untuk membeli properti sebaiknya dicari harga yang paling menarik di kawasan yang sudah berkembang dan dilengkapi dengan fasilitas publik yang bagus.

Yang menarik, walaupun harga rumah second sedang mengalami tekanan, tapi hal tersebut tidak dirasakan oleh semua wilayah, salah satunya kawasan Kelapa Gading. Produk yang berlokasi di wilayah dengan pasokan tipis seperti di wilayah Kelapa Gading masih mengalami kenaikan, terutama properti yang sudah dibeli sejak lama saat harga masih sangat murah.

Dengan terkoreksi harga rumah second saat ini, maka bisa dipastikan saat ini adalah waktu yang tepat untuk membeli rumah bagi pada end user atau investor yang tujuannya jangka panjang. Sebab, kalau stok di pasar mulai menipis, dapat dipastikan harga akan kembali bergerak naik.

Andy K Natanael, Founder PROJEK dan PROVIZ mengatakan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembelian properti karena harga di pasar secondary mengalami penurunan. Berdasarkan pengalaman Andy dan temen-temannya sesasama agen properti, harga rumah secondary sekarang banyak mengalami penurunan bahkan lebih rendah dari pembelian awal. Artinya, para investor menjual rugi produk propertinya.

Andy melihat, harga properti tahun ini merupakan kondisi paling murah atau bottom. Sehingga jika masuk sekarang maka potensi keuntungan yang bisa diperoleh ke depan akan sangat tinggi sekali.

Menurutnya penurunan harga di pasar sekunder tersebut terjadi akibat investor ramai-ramai melepas barangnya ke pasar karena membutuhkan dana cepat di tengah kondisi ekonomi yang lagi lesu

Berita sebelumyaVila Santri Penghafal Quran Anyer Tak Tersentuh Tsunami
Berita berikutnyaJokowi Minta MBKG Beli Alat Pendeteksi Dini Tsunami. BMKG: Sudah Diajukan Januari 2018, Tapi Dicoret