Najwa Shihab hingga Ira Koesno Modertor Debat Capres-Cawapres 2019

0
22

berdasarkan kesepakatan pada rapat dengan para pemimpin redaksi media massa televisi dan radio, KPU memutuskan enam nama moderator debat capres dan cawapres 2019.

Semua nama-nama calon moderator tersebut sudah disetujui KPU. Tapi KPU belum menentukan siapa moderator yg akan memimpin jalannya debat pertama sampai kelima.

Ketua KPU Arief Budiman mengatakan, besok Jumat tanggal 28 Desember pukul 13.30, akan diadakan rapat terakhir untuk memutuskan nama2 moderator debat.

●SIAPA SAJA MEREKA?

1. NAJWA SHIHAB
Ia mantan Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV. Kini memandu acara diskusi Mata Najwa di Trans 7, dan mendirikan Narasi TV yang siarannya diedarkan lewat youtube.

2. KANIA SUTISNAWINATA
Kini menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV. Sebelumnya ia memang bekerja di Metro TV sejak kelahiran tv tsb pada tahun 2000. Pada tahun 2013 ia pindah ke Bloomberg TV, dan kembali ke Metro TV pada 2016.

3. TOMMY TJOKRO
Tommy Tjokro adalah mantan presenter berita di Metro TV dan kini menjadi presenter di RCTI.

4. BAYU SUTIONO
Bayu Sutiyono adalah presenter berita di Kompas TV sejak 2015. Sebelumnya ia berkerja di Liputan 6 SCTV.

5. ALFITO DEANNOVA
Alfito Deannova kini berkarier di CNNIndonesia TV. Sebelumnya berkarir di TV One dan Liputan 6 SCTV.

6. IRA KOESNO
Ira adalah adalah mantan presenter berita di Liputan 6 SCTV. Ia kini diketahui membangun konsultan humas miliknya.

✔DEBAT CAPRES-CAWAPRES yg diselenggarakan KPU merupakan Hajat Penting Negara yang dibiayai oleh Uang Rakyat.

Apakah para pemimpin media massa elektronik yang mengusulkan pegawai-pegawainya untuk memimpin Debat tsb sudah mewakili keinginan rakyat sebagai Pemilik Negeri ini?

Dimana peran SUARA RAKYAT sebagai pemilik hajat Pilpres yang sesungguhnya sehingga rakyat juga dapat ikut menentukan bagaimana Debat nanti berlangsung?

Bagaimana Netralitas dapat terjaga jika yang menentukan sosok Moderator adalah media2 yang selama ini dipertanyakan keberpihakannya oleh Paslon oposisi dan sebagian Rakyat? Bukankan Pemilu yang menghabiskan duit rakyat 24,9 Trilyun itu juga dibiayai oleh rakyat yg mendukung oposisi?

Apakah diwajibkan bahwa Moderator harus sosok dari Media? Bukankah masih banyak tokoh2 arif bijaksana nan cendekia di negeri ini?

Memang bisa didebat bahwa keenam nama yang akan diproses oleh KPU tsb belum tentu keberpihakannya, tapi yang lebih jelas adalah diantara mereka ada yang tidak jelas kenetralannya.

Apalagi setelah berlarut polemik soal Kasus KTP elektronik yang tercecer, kasus DPT palsu, soal Kotak Suara Kardus, masalah Daftar Pemilih Orang Gila dan lainnya, maka alangkah lebih bijaksana jika KPU lebih bisa mawas diri. Jangan sampai Pilpres menjadi terdegradasi keabsahannya hanya gara-gara keputusan blunder yang dapat menurunkan kepercayaan rakyat.

Berita sebelumyaDari Kepala BNN, Dirut Bulog, Kini Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Berita berikutnyaKemenaker Fokuskan Pelatihan Vokasi di 2019