Dulu Mereka Menebar Ketakutan Kalau Anies-Sandi Menang, Sekarang Ditujukan ke Prabowo-Sandi

0
12

Saya ingin tuntaskan tulisan tentang #JualanKetakutan di 2018 yang dimainkan oleh satu KELOMPOK sebagai modus untuk menguasai ingatan dan mood politik publik.

Sekarang mood itu dipakai untuk menolak @prabowo setelah gagal mereka pakai untuk menolak @aniesbaswedan 2017 lalu.

Sebagai warga negara kita perlu menetralisir imajinasi dan mood publik. Agar perdebatan pada awal tahun 2019 nanti benar2 dicerna dengan akal sehat dan tanpa rasa takut. Kita tentu ingin melihat kapasitas pemimpin apa adanya. Jangan besar bayang dari orangnya.

Dalam Pilkada Jakarta, hampir saja rasa takut menyebar tidak saja di ibukota. Tapi diseluruh Nusantara. Hampir saja perpecahan akibat Pilkada di satu titik menjadi beban seluruh bangsa. Di sini Saya katakan apresiasi kepada @AgusYudhoyono dan mpok Sylvi yang berada di posisi tengah.

Alhamdulilah, akhirnya pemilu kepala daerah ibukota berlangsung relatif aman. Meski residunya muncul di mana2. Suatu hari saya ke Manado, saya dihadang oleh sekelompok orang bersenjata, ustad UAS, Ust Zul, dll juga kena akibat, padahal kami semua bukan Tim Sukses.

Kita yang bersaudara jadi bersengketa padahal kita tidak punya hubungan apapun dengan Pilkada DKI, nyoblos juga tidak. Tapi itulah, rasa takut membuat kita menjadi tidak rasional dan itu target mereka. Mereka tidak mau pemilih itu cerdas, mereka bikin kita gila.

Dalam Pilkada Jakarta, digambarkan seolah2 kalau Anies-Sandi menang, ibukota akan jadi tempat bahaya. Jakarta akan penuh intoleransi karena sweeping akan ada di mana-mana dan orang berjubah sorban akan melakukan sembarangan razia.

Pilkada Jakarta digambarkan seolah sebagai momen yang sempurna bagi persekongkolan kelompok2 intoleran dan anti kebhinekaan. Di dalamnya ada @prabowo @aniesbaswedan @sandiuno dan para ulama yang anti NKRI. Begitulah kecemasan dipompa jadi komoditi politik.

Alhamdulilah @aniesbaswedan dan @sandiuno memimpin ibukota, tidak ada masalah. Kedua pemuda putra bangsa yang cemerlang itu membuat kita bangga. Mereka punya pergaulan internasional. Wajarlah pada mereka terhambat optimisme bangsa ini.

Bung @aniesbaswedan adalah sahabat saya sejak mahasiswa. Dia aktifis mahasiswa Jogja yang berbakat. Kalau datang dari Jogja sebagai ketua senat mahasiswa UGM kami jumpa dan berdiskusi situasi pergerakan mahasiswa di Salemba (UI). Memang dia mahasiswa cerdas. Sekolahnya bener.

Suatu hari di tahun 1997 sebelum meletus aksi2 mahasiswa kami mengundang pak Amien Rais untuk berbicara di Cikini, Taman Ismail Marzuki. Kami naik bajay bertiga pak Amien dari pusat PP Muhammadiyah di Menteng. Kami bersemangat mendengar ide suksesi.

Jadi kalau hari ini Anies Baswedan menjadi pemimpin itu sudah bener. Jalur dia memang aktivis. Rasanya Jakarta sekarang tenang dalam pimpinan beliau. Itu pula sebanya #Pemilu2019 juga relatif hangat karena ibukota tidak menyulut api seperti sebelumnya.

Kombinasi @aniesbaswedan dan @sandiuno ideal bagi ibukota. Kota ini nampak berkelas dan dialognya sehat. Kini @sandiuno dipilih mewakili @prabowo untuk memimpin negara tahun depan, mari kita pilih secara waras kandidat kita masing2. Jangan cemas.

Jangan percaya kepada kelompok provokator yang menganggap Indonesia di bawah @prabowo dan @sandiuno akan jadi mundur, intoleran dan anti kebhinekaan. Sebab orangnya sama saja. Mereka bohong di ibukota dan mereka mau bohong di seantero negara. Jangan percaya.

Sejak peralihan rezim otoriter hingga amandemen konstitusi 4 kali sampai sekarang, Indonesia telah dipimpin oleh akal sehat. Kekuasaan sebesar apapun akan kita kendalikan. Kecuali yang tidak punya akal sehat. Bikin sulit pengendalian.

Seperti ibukota, mari optimis dengan #pemilu2019 aman dan damai dan insya Allah jangan mau dibikin cemas. Pilkada DKI telah membuktikan bahwa bangsa ini waras. Itu saja.

(Dari twitter @Fahrihamzah 27 Desember 2018)
[30/12 08] WASPADAI TUKANG FITNAH !!!

Kali ini saya ingin mengutip sebuah tulisan dari Tengku Zulkifli Usman, seorang analis politik dunia Islam dan Internasional. Seorang intelektual, berpendidikan, sehingga cara ia menuangkan pikiran-pikirannya dalam sebuah tulisan mencerminkan kualitas kecerdasan, kedalaman ilmu dan kematangan dari sisi penguasaannya di bidang politik.

Ia menyebutkan begini :

Aa Gym itu dai yang lemah lembut, kalem, damai dan anti kekerasan. Kalau dalam kacamata syariah, tidak ada kesalahan fatal yang beliau lakukan, tapi beliau dibusukkan lewat isu poligami.

Habib Rizieq dai yang tegas, beliau bukan keras apalagi brutal.
Langkah-langkahnya selalu pakai payung hukum, taat azas, taat konstitusi, tidak suka melanggar aturan negara, tapi namanya dibusukkan lewat isu “chat mesum” palsu murahan.

Ustadz Abdul Somad dai yang lugas, jelas, tegas dan selalu menyerukan persatuan, langkah-langkahnya juga konstitusional, tapi namanya dibusukkan dengan isu pendukung HTI dan Terorisme.

PKS itu partai politik yang moderat, haluan politiknya humanis, jalan tengah antara ekstrem kiri dan kanan, jauh dari kata radikal.

Langkah-langkah politik PKS masuk logika demokrasi modern, tidak ada aturan yang ditabrak, tapi tetap saja dibusukkan lewat isu-isu murahan lain sebagai partai radikal, partai penyebar bibit paham ekstrem, dstnya.

Sesungguhnya sasaran mereka bukan Aa Gym, bukan Habib Rizieq, bukan Ustadz Abdul Somad, bukan PKS, tapi sasaran mereka yang sesungguhnya adalah ISLAM. Ya, Islam adalah SASARAN TEMBAK mereka.

Musuh-musuh Islam bekerja keras membusukkan tokoh tokoh islam, baik secara individu maupun secara institusi, mereka membayar media, relawan, dst, dst, agar nama Islam buruk dan tokoh Islam jadi busuk.

Apa boleh buat, masyarakat awam yang mayoritas menghuni negeri ini tidak paham apa itu ”agenda setting”, apa itu konspirasi, apa itu ”media-malaise”, apa itu teori ”preming” dan ”framing”, dan apa itu ”spin doctor” yang bekerja siang malam men-jelek2kan Islam.

Otak muslim kita dicuci, yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan, penjahat dianggap pahlawan, penjahat dibilang ulama, sedangkan pahlawan dianggap penjahat, tokoh yang lurus dibusukkan, tokoh Islam yang menyimpang dipuja-puji.

Sasaran mereka adalah Islam, karena kalau nama Islam sudah busuk, maka partai Islam juga akan busuk, pasar Islam juga akan sepi, tujuan besar mereka adalah melemahkan Islam dari berbagai sisi.

Semua isu yang mereka angkat, baik dari isu pribadi poligami sampai isu sensitif soal terorisme, semua mereka kemas dengan baik, dengan ”packaging” yang cantik yang tujuan akhirnya adalah men- ”down grade” Islam secara menyeluruh, sayangnya, muslim awam kadang ikutan nyinyir sesamanya.

Muslim awam ikut nyinyir poligami Aa Gym, ikut menyerang Habib Rizieq, ikut-ikutan menuduh UAS itu radikal, ikut menyerang PKS sebagai partai Islam yang sama dengan partai yang lain.

Misi musuh kita kadang tercapai bukan karena mereka pintar, tapi karena kebodohan kita sendiri, kedunguan kita, kurangnya ”self criticism” kita, kita sibuk riuh ricuh ini-itu, karena selalu lupa akan tema utama yang lebih ”urgent” dan darurat untuk dibahas, kita lupa tangan-tangan kotor yang beroperasi setiap detik untuk melemahkan Islam.

Itulah yang dituliskan oleh Tengku Zulkifli Usman tentang kondisi umat dan keadaannya saat ini. Mengingat namanya, saya jadi teringat nama Wakil Ketua MUI Pusat Tengku Zulkarnaen, beliau pun tak luput dari pembusukan, sebagai ulama yang lurus dan tegas, ia difitnah sebagai ulama Wahabi, ulama pro ISIS yang beraliran keras dan radikal.

Semoga umat Islam mampu dan segera tersadar dari lalai, bangkit dari kebodohan berpikir, bangun dari kecerobohan mencerna, karena telah begitu mudah percaya dengan MULUT BUSUK penebar fitnah, yang justru sering menyamar di balik nama Islam, menyamar sebagai tokoh Islam, menyamar sebagai tokoh demokrasi, bahkan menyamar di balik nama kyai dan habaib.

#WaspadaiPenebarFitnah

Oleh: Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR, Politisi PKS

Berita sebelumyaTiga Agenda Indonesia dalam Pertemuan Tahunan WEF 2019
Berita berikutnyaJokowi Tegaskan Penerima Sertifikat Tanah Hanya Dikenai Biaya Patok