Korupsi Makin Marak Apa Kabar Revolusi Mental?

0
14

Semakin maraknya Korupsi dan kaitannya dengan Revolusi Mental ala Jokowi, yang seharusnya bisa membawa perubahan sikap mental individu semisal sikap Aparatur Negara, ASN dan Pejabat Politisi dan/atau Pejabat Negara ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

Dengan “bila ada” Revolusi mental, bukannya semakin menambah kesibukan KPK RI untuk melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) “Ibarat Menangkap Manusia Bermental Binatang” yang membuat ketua MPR RI merasa kawatir, apabila KPK RI terus menerus melakukan OTT, maka semua Pejabat Negara akan habis terkena OTT dan akan masuk penjara semua, karena menurut dia, semuanya adalah Pelaku korupsi tanpa kecuali !

Revolusi Mental atau Mental Revolution, yang diprakarsai atau digagas oleh Agustinus Daniel, dengan semboyan “A Small Change For A Better Civilization” Perubahan Kecil untuk suatu masyarat sipil yang lebih baik.

Jokowi juga menjanjikan Revolusi mental, dari negatif kepada positif dan membuat peta perubahan untuk Indonesia “Roadmap to changes for Indonesian”mulai dari Working Goverment for the nation, meliputi :
1. Security and protection;
2. Law Enforcement and Eradication of corruption;
3. Public Service.

Bahwa namun faktanya, KPK RI justeru semakin sibuk menangkapi dan menjadikan tersangka jajaran dan bawahan Jokowi antara lain Bupati, Gubernur hingga Menteri termasuk DPR RI/DPD & DPRD karena semakin hari justeru semakin gencar melakukan korupsi.

lalu dimanakah magna revolusi mental ala Jokowi dimaksud ?. Selanjutnya, Sdr. Jokowi juga menjanjikan Revolusi Mental:
1. Emancipation ;
2. Independency ;
3. Unity.

Bahwa akan tetapi, fakta yang terjadi adalah Negara kita justeru semakin terikat atau tergantung kepada Hutang Luar Negeri, demikian juga Kebutuhan Import barang yang tinggi sehingga mata uang USD semakin menguat terhadap rupiah hingga mencapai Rp. 15.000.- per USD.

Masyarakat kita justeru semakin hari justeru semakin terkotak-kotak alias terpecah belah, ada kelompok Cebong, Kampret, 212, Nasionalis, Agamis, Radikalis, Komunis, Aseng, Asing, Pribumi, HTI, Kilafah, Wahabi, Jamaah Islamiah, dll., lalu dimanakah makna Unity Mental Revolution tersebut?

Sdr. Jokowi juga menjanjikan revolusi mental Sovereign Prosperity yang meliputi :

1. Autonomy In Food, faktanya hingga hari ini kita masih import bahan pangan termasuk beras, gula dan garam dari luar negeri, lalu dimana magna revolusi kemandirian pangan dimaksud ?;

2.Autonomy In Energy, sampai saat ini saya belum faham dalam hal / soal energy apa kita telah mandiri, sebab sampai hari ini, saya masih sibuk berkelahi / mensomir Bos-bos BUMN soal Import Bahan Bakar Minyak dan Barang barang energy lainnya.

3. Restoration of maritime economic, untuk yang satu ini mari kita tanyakan pada Menkomaritim, tentang ekonomi maritim apa yang telah direstorasi dan capaian apa yang sudah diperoleh Pemerintah terkait revolusi dan restorasi ekonomi maritime dimaksud ? selain menenggelamkan kapal penangkap ikan ” Ilegal Fishing ” dan apa mamfaatnya bagi ekonomi nasional negara kita ?

Semoga “Mental Revolution” ala Jokowi, tidak sekedar jargon politik yang tiada arti, tetapi harus bisa memberi mamfaat positif bagi perubahan sikap dan mental masyarakat Indonesia, iya setidaknya minimal berguna untuk Aparatur Negara, ASN, dan Pejabat Politisi / Negara, sehingga tidak melulu membuat KPK RI sibuk OTT setiap hari.

Dengan mengingat hutang negara kita sudah diatas Rp. 5.000.- Triliun dan Harga 1 USD adalah Rp. 15.000.- dll, tapi harus digerogoti kagi oleh koruptor, yang apabila bunga hutangnya berkisar 10- 20 % saja setahun, itu berarti untuk membayar bunganya saja sudah sebesar Rp.500 – s/d 1.000.- Triliun pertahun, sementara RAPBN kita hanya Rp. 2.100 Triliun.

Bahwa ada 13 rahasia / faktor sial, tentang mengapa korupsi tidak mungkin bisa diberantas di Indonesia sampai kapanpun ! kecuali Presiden mau membenahi ke 13 faktor sial itu, yang hak terbit eksklusifnya telah PH berikan pada Jurnalis senior tersebut.

Horas.
Salam Revolusi Belum Berakhir !

OLeh: Kamaruddin Simanjuntak, Pengacara dan Praktisi Hukum

Berita sebelumyaWiranto Tantang Prabowo Soal Indonesia Punah
Berita berikutnyaGub Jatim: Optimis Jokowi Menang Telak di Jatim