Penipu MInta Korban Membayar Rp 20 Juta Jadi Karyawan PT KAI

0
18
Foto: maknanews.com

Jumlah pencari pekerjaan dan lowongan pekerjaan yang tersedia yang terpaut jauh membuat sejumlah oknum memanfaatkan “peluang” menipu para pencari kerja.

Kali penipuan rekrutmen di PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Tak tanggung-tanggung, keduanya meminta korban uang pelicin Rp 3,5 hingga Rp 20 juta bagi para korban rekrutmen PT KAI.

Salah satu korban DE, menyebut pelaku berjumlah dua orang, yakni bernama Nanang dan Iday yang mengaku sebagai pejabat PT KAI, yang mengurus rekrutmen karyawan.

Pelaku mengiming-imingi korbannya bisa memberikan kemudahan jadi pegawai PT KAI lewat jalur rekomendasi.

“Jadi, pelaku ini, dia mengaku tangan kanannya kepala rekrutmen KAI. Jadi, dia mengaku karyawan di KAI. Kita dibilang, ini lewat jalur rekomendasi, jadi enggak online. Katanya, kepala rekrutmen KAI minta dia cari sekitar 100 orang dari jalur rekomendasi,” katanya, di Jakarta, Senin (12/11).

Lebih lanjut dia mengatakan, keduanya memanfaatkan grup dalam aplikasi WhatsApp untuk meyakinkan korbannya dalam beraksi. Nama grup WhatsApp tersebut ‘Angkatan 2018’, di mana dalam grup tersebut, kedua pelaku menjadi admin, dan menggunakan sosok fiktif bernama Angga untuk mengelabui para korbannya.

“Si pelaku ini membuat tokoh fiktif, namanya Angga. Si Nanang (pelaku) ini, ceritanya tangan kanannya Angga, ketua rekrutmen KAI,” ujar dia.

Dalam grup itu, mereka pura-pura dengan terus memberikan informasi mengenai proses rekrutmen PT KAI kepada para korban. Bentuknya, melalui screenshot percakapan.

“Dia buat screenshot terus dishare ke grup. Dari situ, saya mulai timbul kecurigaan tuh. Bahasa chatnya identik dengan dua orang ini,” katanya lagi.

DE mengaku dirinya dimintai uang oleh pelaku. Nilai uang beragam tergantung jabatan yang dipilih, juga strata pendidikan.

Bukan hanya dia yang ditipu, tetapi ada juga beberapa anggota keluarganya termakan tipu muslihat tersebut. Dia mengaku seluruh keluarganya rugi hampir Rp20 juta.

“Adik saya diminta Rp11 juta, karena dijanjikan SK BUMN. Saya sekitar Rp4 juta, paling kecil Rp3,5 juta. Jadi, ada yang bayar tunai, ada yang transfer juga ke pelaku ini,” ucapnya

Berita sebelumyaPertanyataan “Buta dan Budek” Ma’Aruf Amin Ganggu Kenyamanan Penyandang Disabilitas
Berita berikutnyaPemerintah Gelontorkan Rp 35 Triliun Dana Abadi untuk Beasiswa 100 Santi