Masa Depan PBB dalam Perpektif Pemasaran dan Portofolio Bisnis

0
21

Akhir-akhir ini saya membaca berbagai status Prof Yusril Izra Mahendra, Ketua Umum Partai Bulan Bintang berkenaan dengan posisi, sikap dan lainnya tentang posisi Partai itu menjelang Pemilu 2019.

Status-status YIM, bisa jadi merupakan antitesis dan sekaligus anomali atas seluruh yang telah beliau lakukan sebagai Ketua Umum PBB, dimana terjadi inkonsistensi bertubi-tubi atas berbagai ucapan beliau selama ini bahkan beberapa diantaranya viral di media sosial termasuk ILC.

Yusril berkali-kali mengingatkan publik terutama umat Islam tentang inkonsistensi, kriminalisasi ulama dan umat Islam, rendahnya kualitas kepemimpinan, pengelolaan negara yang amatir dan lainnya. Bahkan di berbagai forum Yusril berkali-kali mengingatkan agar umat Islam terjun ke dunia politik agar tidak mengalami apa yang dialami Umat Islam dengan mengambil contoh Hisbut Tahrir Indonesia yang enggan berpolitik.

Salah satu dari sekian banyak ujaran Yusril yang sangat viral adalah ucapannya bahwa ‘Segudang kecerdasan itu tak ada gunanya dibanding segenggam kekuasaan.

Kembalinya Yusril menduduki kursi Ketua Umum PBB memberikan banyak harapan pada ummat Islam atas Partai itu, dipimpin oleh seorang Politisi yang berperan tak kecil pada reformasi, ahli hukum tata negara, pernah menjadi menteri beberapa kali dan pengacara kawakan yang sering berhadapan dengan pemerintah dengan kecerdasan logika hukum yang bisa dikatakan langka di negeri ini, bahkan dari cara bertutur, Yusril bisa dikatakan sebagai salah satu penutur terbaik di negeri ini.

Namun keputusan Yusril untuk mendukung koalisi petahana, walaupun sudah terbaca awalnya, namun cukup mengagetkan, karena keputusan itu seakan menganulir seluruh ucapan-ucapannya di berbagai forum yang dengan mudah dapat dilihat jejak digitalnya, bahkan puncak dari semua ini adalah ketia Yusril dengan emosi meminta seluruh anggota FPI untuk hengkang dari partainya, padahal sebelumnya beliau lah orang yang mengundang FPI dan HTI untuk bergabung dan membesarkan Partai Bulan Bintang, dalam sebuah paradigma baru dan bisa jadi beliau melakukan revitalisasi partai kala itu.

Melihat riwayat pendirian perjalanan Partai Bulan Bintang, maka bisa jadi ini adalah klimaks dramatis dimana terjadi decline atas elektabilitas partai itu secara sangat drastis, dan sepertinya roh Masyumi yang diklaim ada di PBB menjadi tidak sinkron, bahkan roh itu telah terbang hingga tak bersisa dalam analogi pada tubuh PBB.

Lalu bagaimana dengan masa depan PBB pasca bergabung denga Koalisi 01 dan mendukung Jokowi-KMA? maka sebenarnya tidak terletak pada keputusan itu, namun lebih pada inkosistensi yang terpapar begitu nyata dan jelas, yang tentunya membuat setiap orang berpikir apakah ini demi segenggam kekuasaan yang dimaksud pada pidatonya terdahulu walau sesaat pada detik-detik terakhir? maka seharusnya Yusril dapat membaca dan mengingat seluruh ucapannya secara verbatim yang dapat ditelusuri dengan melihat kembali jejak digital yang dengan mudah dapat diperoleh.

Koalisi 01 pun sepertinya tidak begitu gembira dengan kehadiran PBB yang kedatangannya bagai rambut dalam tepung, tak akan membantu apa-apa, sama halnya dengan PSI yang kian hari kian disadari tak memberi kontribusi apapun elektabilitas pada Koalisi-02, bahkan bisa jadi sebaliknya. Kesibukkan Yusril yang ingin memperlihatkan kiprahnya pada pembebasan Ust Abu Bakar Baasir sudah lebih dari cukup sebagai gambaran betapa tak berharganya beliau di Koalisi-02.

Namun lebih dari itu, efek ini kemudian mengagregasi pada caleg-caleg PBB yang pesimis terpilih sebagai anggota legislatif sebagai side effek dari keputusan sang ketua umum, optimisme telah berubah menjadi pesimisme, bahkan jangankan untuk menembus elektoral treshold yang 4 persen bahkan untuk mendapatkan satu persen suara saja, bagaikan menggantang asap, jauh panggang dari api serta harus bersiap gigit jari.

Suara PBB tadinya diharapkan terbantu dengan bergabungnya beberapa tokoh terutama FPi di PBB baik sebagai pengurus maupun caleg, paling tidak bisa mereaktivasi pemilih yang pernah memilih PBB pada pemilu-pemilu sebelumnya ditambah suara dari pendukung FPI yang merupakan salah satu organisasi yang mampu membangun brand image sebagai organisasi islam paling berpengaruh di negara ini.

Lalu kini bagaimana portfolio suara Partai Bulan Bintang? maka rasanya untuk melakukan akuisisi suara dari partai-partai yang ada sangat kecil kemungkinan bahkan bisa dikatakan sangat tipis menuju tak ada, sedangkan pendukung yang saat ini memutuskan hengkang membatalkan niatnya menjatuhkan pilihannya pada PBB, terbang bersama angin dan melabuhkan suaranya pada partai lain yang konsisten membela Islam, sedangkan dari kalangan yang sebelumnya golput dan milenial hampir tak ada peluang memberikan suaranya pada PBB. Maka atas dasar ini saya yang awalnya memperkirakan PBB akan sulit mendapatkan satu persen suara, maka saya reduksi menjadi akan sulit bahkan untuk setengah persen suara.

Yusril tentu akan menorehkan sejarah sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang pertama dalam sejarah dan berselang beberapa dekade kemudian kembali menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang hanya untuk mengakhiri hidup partai ini, yang dalam istilah pemasaran dikenal dengan istilah ‘toward the end of marketing’

Dan setali tiga uang, dengan mengabaikan hasil-hasil riset lembaga riset politik yang selalu menempatkan PBB pada posisi-posisi kritis, maka kali ini Yusril dan PBB tak akan mendapatkan apa-apa, bahkan walau hanya segenggam kekuasaan, kecuali kenangan dan penyesalan tak berujung atas keputusan yang salah itu.

Oleh:
Refrinal
Praktisi Riset Pemasarab dan Strategi

Berita sebelumyaMasuk Kamar Mbah Moen, Rommy Dinilai Lampaui Batas
Berita berikutnyaAkhirnya…., Karyawan PT Pos Gajian 4 Februari 2019