Keajaiban Dunia Kedelapan Ditemukan

0
529

Selama 130 tahun silam, ada dua mata air yang sangat legendaris bernama Teras Putih dan Teras Merah Muda di sekitar Danau Rotomahana, Pulau Utara New Zealand.

Dua mata air ini sempat disebut sebagai keajaiban dunia kedelapan, kedua mata air ini terbentuk oleh akumulasi deposit yang kaya akan silika dari mata air panas bumi kuno. Namun pada tahun 1886 keajaiban ini hancur akibat letusan Gunung Tarawera.

Diawali magma naik ke atas dan bertemu dengan danau yang dikelilingi oleh Teras Putih dan Teras Merah Muda, serentetan reaksi berupa ledakan dan semburan lava terjadi. Bahkan energi yang dilepaskan oleh keajaiban ini diperkirakan seperti Tsar Bomba, bom nuklir terbesar yang pernah diledakan.

Setelah kejadian tersebut pencarian puing-puing Teras Putih dan Teras Merah Muda pun mulai dilakukan, namun sayangnya tempat legendaris tersebut seperti hilang bak ditelan bumi.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the Royal Society of New Zealand pada tahun 2016 mengklaim telah membuat terobosan dalam pencarian Teras Putih dan Teras Merah Muda.

Salah satu peneliti bernama Re Bunn, mengatakan mereka telah menemukan tempat legendaris tersebut berkat buku harian Dr Ferdinand von Hochstetter, seorang pakar geologi dari adab ke-19.

Dalam buku tersebut mendeskripsikan Teras Putih dan Teras Merah Muda ketika sedang melakukan survei geologi di New Zealand. Buku ini ditunjukkan kepada Bunn oleh seseorang bernama Sascha Nolden dari National Library of New Zealand.

Meskipun telah dibantu oleh buku harian Hocstetter, pencarian Teras Putih dan Teras Merah Muda tetap sulit, sebab letusan Gunung Tarawera tidak hanya mengubur kedua Teras itu, tetapi juga menggeser lanskapnya.

Bunn mengatakan “Kita telah menghabiskan 2.500 jam untuk meneliti selama 12 bulan terakhir”.

Dengan menggunkan teknik kartografi forensik yaitu membandingkan peta New Zealand saat ini dengan data pada tahun 1859, Bunn dan Nolden mencari lokasi legendaris tersebut.

Karena kerja keras mereka, Bunn kini mengklaim telah telah menemukan lokasi legendaris tersebut dengan tingkat kesalahan kurang lebih 35 meter. Meski demikian ucapan Bunn masih perlu dikonfirmasi. Buun juga menyerahkan keputusan untuk menggali lokasi tersebut kepaa otoritas suku suku Tuhourangi, yang tinggal di area tersebut.

 

Berita sebelumyaGeng Motor “Satu Darah” Ditakuti Di Eropa
Berita berikutnyaEfek Domino Krisis Global, Nike Inc Akan Pangkas 1.400 Karyawan Di Seluruh Dunia