49 Orang Tewas Akibat Penembakan Masjid Di Salandia Baru

0
23

Empat puluh sembilan orang sejauh ini diketahui tewas akibat penembakan masjid Selandia Baru pada saat salat Jumat (15/3) siang. Empat puluh satu orang terbunuh di satu masjid dan tujuh orang di masjid lainnya. Satu orang lainnya meninggal di rumah sakit. Komisaris polisi Mike Bush mengatakan pada konferensi pers, bahwa ada empat orang yang sejauh ini ditahan. Dia mengatakan bahwa tiga adalah laki-laki dan yang lainnya adalah perempuan. Perkembangan penyelidikan masih terus berlanjut.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menggambarkannya sebagai “salah satu hari paling gelap di Selandia Baru.”. Seorang pria yang mengaku bertanggung jawab atas penembakan itu, menulis sebuah manifesto yang mengungkapkan keprihatinan tentang “genosida putih.”

Semua waktu yang dicantumkan berikut adalah hari Jumat (15/3) waktu wilayah New Zealand (lebih cepat 6 jam dari WIB).

Sekitar 200 anggota keluarga ada di lokasi, menunggu berita tentang anggota keluarga mereka. “Setelah kami bisa menyediakan kebutuhan medis bagi mereka yang terluka, dan kesejahteraan keluarga dan whanau (kerabat) mereka, kami akan dapat fokus pada kesejahteraan psikososial komunitas Canterbury kami yang lebih luas,” kata Meates salah astu warga.

Dalam sebuah manifesto yang tampaknya telah diunggah sekitar waktu serangan tersebut, seorang pria yang mengaku bertanggung jawab atas penembakan itu menggambarkan dirinya sebagai “pria biasa” berusia 28 tahun yang lahir di Australia. CBS News tidak dapat mengkonfirmasi bahwa itu memang diunggah oleh sang penyerang.

Dia mengatakan bahwa orangtuanya adalah keturunan Skotlandia, Irlandia, dan Inggris, dan menulis tentang apa yang disebutnya “genosida putih” yang didorong oleh “krisis imigrasi massal.”

Dia mengatakan bahwa dia melakukan serangan itu “untuk menunjukkan kepada penjajah bahwa tanah kita tidak akan pernah menjadi tanah mereka… selama orang kulit putih masih hidup.”

Dia mengatakan bahwa “kita harus memastikan keberadaan rakyat kita, dan masa depan untuk anak-anak kulit putih.”

Penembak itu mengaku bahwa dia adalah pendukung Donald Trump dalam satu hal, tetapi tidak sepenuhnya: “Sebagai simbol identitas kulit putih yang diperbarui dan tujuan bersama? Tentu. Sebagai pembuat kebijakan dan pemimpin? Ya Tuhan, tidak.”

l.”

Berita sebelumyaTak Juga Terungkap, Kasus Novel Baswedan Disuarakan di Forum PBB
Berita berikutnyaMasyarakat Dihimbau Tak Sebarkan Video Penembakan Di Masjid Al Noor, Selandia Baru