Tak Peduli Kekejaman Pada Muslim Rohingya, Penghargaan HAM Aung San Suu Kyi Dicabut

0
13
Foto: thedailybeast.com/

Kekejaman yang terus dialami para muslim Rohingya di Myanmar beberapa tahun terkahir menjadi sorotan dunia. Dianggap tak dianggap tidak peduli atas kekejaman yang dilakukan militer terhadap muslim Rohingya, Amnesty Internasional menarik penghargaan HAM Duta Besar Hati Nurani 2009 dari Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.

“Hari ini, kami kecewa bahwa Anda tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian dan pertahanan abadi hak asasi manusia,” kata kepala Amnesty International Kumi Naidoo dalam sebuah surat kepada Suu Kyi seperti dilansir AFP, Selasa (13/11),

“Amnesty International tidak dapat membenarkan status Anda terus sebagai penerima penghargaan Duta Besar Hati Nurani dan sebagainya dengan sangat sedih kami menarik diri berkas ini dari Anda,” sambungnya.

Amnesty Internasional telah menginformasikan keputusan ini kepada Suu Kyi pada Minggu (10/11). Sejauh ini belum ada respons dari Suu Kyi.

Suu Kyi dan Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) meraih kekuasaan pada tahun 2015 dengan kemenangan telak dan mengakhiri puluhan tahun kekuasaan militer.

Kepemimpinan Suu Kyi dianggap gagal saat muslim Rohingnya diusir militer dari Myanmar. PBB menyebut hal tersebut sebagai pembersihan etnis.

Tragedi atas muslim Rohingya ini juga membuat Kanada mencopot kewarganegaraan kehormatan pada bulan lalu.

Suu Kyi juga telah kehilangan banyak penghargaan lain dari universitas dan pemerintah lokal maupun regional.

Lebih dari 720.000 muslim Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine pada Agustus lalu. Mereka mengalami kekerasan dari militer Myanmar. Banyak di antara mereka yang diyakini telah dibunuh atau disiksa dan diperkosa.

Suu Kyi sebelumnya disambut dunia global sebagai pejuang kemerdekaan yang melawan kediktatoran militer.

Perempuan berusia 73 tahun ini pernah jadi tahanan rumah selama 15 tahun. Dia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991.

Berita sebelumyaPemerintah Gelontorkan Rp 35 Triliun Dana Abadi untuk Beasiswa 100 Santi
Berita berikutnyaTak Mau Ketinggalan, Rektor IPB Terapkan Konsep Pertanian 4.0