Terkendala Pembebasan Lahan, Program Listrik 35 Ribu Baru 8 Persen

0
30

Pembangunan pembangkit listrik yang menjadi Program 35 ribu Megawatt (MW) masih jauh dari target. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga 2018, proyek listrik yang sudah beroperasi baru mencapai 2.899 MW atau 8% dari target.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu mengatakan rendahnya capaian itu karena beberapa pembangkit berhenti pada tahap konstruksi karena terkendala pembebasan lahan. “Ada yang masih terkendala,” kata dia di Jakarta, Kamis (10/1).

Meski begitu, hingga Desember 2018 proyek 35 ribu MW yang sudah masuk konstruksi sebesar 18.207 MW atau 52%. Itu terdiri dari pembangkit milikPT Perusahaan Listrik Negara (PLN)(Persero) dan Produsen Listrik Swasta (Independet Power Producer/IPP).

Adapun, yang sudah memasuki perjanjian jual beli listrik (Power Purchasing Agreement/PPA) mencapai 11.467 MWatau 32%. Sedangkan yang baru memasuki perencanaan sebesar 954 MW atau 3% dan 1.683 MW sudah masuk tahap pengadaan.

Kementerian ESDM menargetkan, tahun ini pembangkit yang beroperasi meningkat. Pada periode 2019 targetnya, ada tambahan untuk pembangkit yang sudah beroperasi secara komersial (Comercial Operation Date/COD) sebesar 3,976 MW.

Pembangkit listrik yang akan ditingkatkan adalah Pembangkit listrik Tenaga Gas (PLTG). Ini akan tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN untuk periode 2019-2028. Namun, pihaknya belum dapat memastikan berapa besar kenaikannya, karena masih dalam proses pembahasan.

Alasan PLTG ditingkatkan karena kinerja energi yang bersumber dari gas ini membuat pembangkit listrik bisa beroperasi secara optimal. “Gas itu dia dari awal hingga puncak beban cepat sekali, kalau energi baru terbarukan jam 4 sudah hilang,” kata Jisman.

Berita sebelumyaMenyuarakan Mimpi, Agnez Mo Bertemu Jokowi di Istana
Berita berikutnyaSalandia Baru Siap Caplok Bandara Internasional Lombok