Hendy Setiono, Sang Legenda Perintis Bisnis Kebab di Indonesia

0
42
Hendy Setiono (Foto Istimewa)

Berawal dari sebuah gerobak kecil di Surabaya, Hendy Setiono merintis usaha Kebab Turki Baba Rafi di usia 19 tahun. Lima belas tahun berkarya, bisnisnya menggurita hingga 1300 outlet yang tersebar di dalam dan luar negeri.

Hendy Setiono begitu nama pria peganggas usaha makanan khas Timur Tengah di Indonesia. Hendy memutuskan membuka usaha Kebab Turki Baba Rafi daripada melanjutkan kuliahnya di ITS Surabaya.

Ide membuka usaha Kebab diperolehnya saat ia mengunjungi orangtuanya yang sedang berdinas di Qatar. Ia melihat begitu banyak yang menjual kebab disana. Jatuh cinta dengan kebab, Ayah dari Rafi Darmawan ini yakin, Kebab akan menjadi salah satu makanan Turki yang mudah diterima masyarakat Indonesia.

Dari Gerobak. Dengan modal Rp 4 juta yang diperoleh dari tabungan dan pinjaman rekannya, Handy memulai usaha Kebab Turki Baba Rafi. Ia membuka outlet pertamanya menggunakan gerobak di pinggir Jalan Nginden Semolo, Surabaya dekat dengan kampus dan tempat tinggalnya.

Keyakinan dan kerja keras Hendy yang memulai usaha di tahun 2003 itu berkembang hingga memiliki beberapa outlet dan karyawan. Tak ingin sukses sendiri, ia pun mengembangkan usahanya lewat sistem franchise.

Selain gerobak, saat ini ada tipe outlet dengan konsep black kios, black booth, container, serta café container. Pengelolaan bisnisnya pun terbagi menjadi dua yakni reguler dan syariah. Franchisee bebas memilih mana yang cocok dengan bisnis impian mereka,” ujar Hendy membuka perbincangan dengan berkabar.id.

Untuk sistem regular, franchisee (pembeli merek/mitra) berhak mengelola sendiri bisnisnya, sedangkan untuk sistem syariah, franchisee dibantu oleh manajemen Baba Rafi untuk pengelolaannya dengan provit sharing atau bagi hasil keuntungan antara franchisee dengan Baba Rafi. Sementara itu, nilai investasi mulai dari 75 juta rupiah untuk tipe gerobak, hingga 300 juta rupiah untuk tipe café container.

Hendy tak pernah menyangka jika usaha gerobakan bermodal minim itu bisa menggurita yang tersebar di dalam dan luar negeri. “Saat ini ada sekitar 1300 outlet yang tersebar di Indonesia dan 8 Negara lainnya, yakni di Malaysia, Singapura, Filipina, China, Srilanka, Brunei Darussalam, Belanda, dan Bangladesh. Dan sebentar lagi Baba Rafi juga akan ada di India dan Papua New Guinea,” jelas Hendy.

Menurutnya, membuka outlet di luar negeri tantangannya jauh lebih berat dibandingkan dengan membuka outlet domestik. Mulai dari mencari calon master franchisee yang siap mengikuti perjanjian dan SOP membutuhkan waktu yang tidak sebentar, perizinan untuk membuka outlet yang tentu lebih sulit daripada domestik, hingga menyesuaikan nilai dan budaya negara dimana ia akan membuka outlet.

Namun semua dijalani Hendy dengan senang hati dan menganggapnya sebagai tantangan bukan halangan. Pria yang hobi traveling ini mengaku banyak belajar diri secara online, youtube dan sosial media terkait bisnis dan pengembangan diri.

Selain kebab, saat ini, Hendy juga memiliki beberapa usaha lain seperti Waroeng Mee yakni cafe yang menyajikan mie sebagai menu utamanya; Foresthree yakni café dengan konsep kekinian yang menyajikan menu sehat; 36 kolam tambak udang vaname, hingga kue artis dengan brand Cakekinian kolaborasi dgn youtubers arief tipang.

Pernah Gagal. Meski telah memiliki gurita bisnis kebab dan sektor lain, bukan berarti Hendy tak pernah merasakan getirnya kegagalan mengembangkan usaha. “Namanya bisnis ada yang sukses dan ada yang gagal, saya pun mengalaminya. Tetapi bukan berarti menyerah. Sehingga saya harus kreatif dan inovatif mencari alternatif bisnis lain yang mengikuti perkembangan jaman dan sesuai dengan trend masa kini,” imbuh pria kelahiran 30 Maret 1982 ini.

Peraih penghargaan Franchise Global Indonesia 2017 yang diserahkan Presiden Joko Widodo ini mengatakan, bisnis UKM dan franchise ke depannya akan semakin berkembang dan tetap diminati masyarakat. Selain itu, bisnis online dan delivery service juga akan melesat, oleh karenanya pengusaha harus bisa memanfaatkan atau berkolaborasi dengan bisnis online dan delivery service untuk meningkatkan bisnis. Saya juga melakukan kolaborasi dengan partner bisnis yang berkompeten di bidangnya masing-masing serta memiliki visi dan misi yang sejalan,” tegasnya.

Banyaknya usaha yang ia miliki, membuatnya harus ekstra menjaga kestabilan bisnis agar standard operational procedure yang dijalankan masih tetap sesuai. ‘Saya mengontrol expenses agar dapat berjalan seimbang dengan income yang didapat. Serta harus tetap inovatif untuk mengembangkan bisnis-bisnis ke depannya,” kata peraih Asia’s Top 10 Young Entrepreneur Award ini.

Meski terbilang sukses dalam berbisnis, Arek Suroboyo ini mengaku jika usahanya masih berskala UKM. ‘Alhamdulillah masih UKM, Usaha Kecil tapi Miliaran,” ungkapnya tertawa.

Tips Sukses. Dipenghujung perbincangannya dengan berkabar.id., pria yang kerap menghabiskan waktu me time bersama keluarga ini tak pernah melupakan berbagi. Menurutnya. sebagai seorang muslim, ia berkewajiban untuk menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya untuk dibagi dengan sesama. Karena terdapat hak mereka dalam rezeki yang saya dapatkan. Ada beberapa lembaga yang biasanya saya amanahkan untuk menyalurkannya,” tukasnya.

Sebagai seorang legenda kebab di tanah air, Hendy banyak memperoleh penghargaan dari dalam dan luar negeri ini. Namun hal itu tak membuatnya jumawa. Menurutnya kesuksesan yang diperolehnya tidak diperolehnya secara instan. Ada kerja keras, keringat dan air mata untuk meraihnya. Theres No Elevator to Success, You Have to take the stairs,” pungkasnya.

Berita sebelumyaJajal Bisnis Kuliner, Okan Perkenalkan Ayam Boom by Okan Kornelius
Berita berikutnyaKalahkan Pebulutangkis Jepang, Anthony Juarai China Terbuka 2018