Harga Minyak Sulit Tembus US$60 Per Barel

0
187

Harga minyak dunia diperkirakan tidak akan menembus level US$ 60 per barel pada 2017 meski negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/ OPEC) telah sepakat mengurangi tingkat produksi.

Selaku pengamat energi RefoMiner Institute, Priagung Rakhmanto menuturkan, harga minyak dunia yang anjlok sejak 2014, belum menunjukkan perbaikan sampai saat ini. Pada tahun 2017, harga minyak diperkirakan hanya berada di level US$ 50-US$ 55 per barel. Harga minyak belum bisa menembus melebihi US$ 60 per barel.

“2017 masih akan bertahan rendah, belum akan melebihi US$ 60. Masih di angka US$ 50-US$ 55 per barel,” kata Priagung, dalam sebuah diskusi, di Jakarta, Selasa (16/5/2017).

Priagung melanjutkan, keputusan negara OPEC yang sepakat mengerem tingkat produksi untuk mendongkrak harga minyak tidak berdampak banyak. Upaya tersebut hanya menaikkan sedikit harga minyak. Lantaran OPEC bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi harga minyak dunia.

“Sudah agak naik karena OPEC memutuskan memangkas produksinya. Kira-kira kalau pun naik gradientnya tidak langsung tinggi. Tidak jauh dari US$ 50 – US$ 55,” ujar dia.

Priagung mengatakan, harga minyak dunia masih rendah hingga kini, disebabkan membanjir-nya pasokan minyak dunia di pasar sejak 2015‎. Pasokan minyak lebih tinggi dari permintaan.

“Karena oversupply sudah lama sejak 2015. Pasokan banjir melebihi permintaan. Sama seperti yang terjadi 2017. Jadi harga minyak masih akan bertahan rendah dalam jangka waktu cukup lama,” tutur pengamat energi RefoMiner Institute tersebut.

Sebelumnya harga minyak mentah dunia naik 2 persen ke posisi tertinggi dalam lebih dari tiga pekan mencapai US$ 52 per barel. Kenaikan harga terjadi usai Arab Saudi dan Rusia sepakat untuk kembali memotong pasokan hingga 2018.

Ini adalah langkah pertama yang diambil OPEC untuk mendukung harga minyak

lebih lama dari kesepakatan pertama. Menteri Energi dari kedua negara produsen terbesar minyak dunia tersebut, menilai pemotongan pasokan harus diperpanjang selama sembilan bulan, sampai Maret 2018.

Dilansir dari laman Reuters, Selasa 16 Mei 2017, patokan minyak mentah global Brent naik 98 sen atau 1,9 persen menjadi US$ 51,82 per barel, usai menyentuh US$ 52,63, posisi tertinggi sejak 21 April. Sementara harga minyak mentah AS naik US$ 1,01 atau 2,1 persen ke posisi US$ 48,85 per barel. (fahmi)

Berita sebelumyaFirza Hussein Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Percakapan Mesum ‘Balada Cinta Rizieq’
Berita berikutnyaAkting Beckham Dibully di Film King Arthur