Sudirman Said Ungkap Pertemuan Rahasia Jokowi dan Freeport

0
17

Pasca ramainya kasus Papa Minta Saham tahun lalu, isu terkait tambang emas Freeport, kini mencuat kabar adanya pertemuan rahasia antara Jokowi dengan Presiden Freeport McMoran Inc, James R Moffet secara diam-diam di istana Presiden.

Pertemuan rahasia tersebut menjadi cikal bakal keluarnya surat tertanggal 7 Oktober 2015 dengan nomor 7522/13/MEM/2015 yang berisi perpanjangan kegiatan operasi freeport di Indonesia.

Hal ini diungkap mantan Menteri ESDM Sudirman Said. Setelah memendam lama, akhirnya ua mengungkap fakta sebenarnya. Hal ini guna menepis tudingan ia sebagai orang yang memperpanjang izin tersebut.

“Mengenai surat, tanggal 7 oktober 2015, jadi surat itu menjadi penguatan publik, saya seolah-olah memberi perpanjangan izin, itu persepsi publik,” kata Sudirman dalam acara diskusi peluncuran buku ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’, di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, (20//2/2019).

Sudirman yang kini menjadi Tim sukses Prabowo tersebut kemudian menceritakan kronologis pertemuan antara Jokowi dan Bos Besar Freeport itu.

Sehari sebelum diterbitkannya surat perpanjangan yakni pada 6 Oktober 2015, ia ditelpon ajudan presiden untuk datang ke istana.

Namun, dalam sambungan telepon tersebut ia tidak diberitahu tujuan Jokowi memanggilnya itu.

“Kira-kira jam 8.30 Wib, saya datang dari rumah, duduk sekitar 5, 10 menit, langsung masuk ke ruang kerja pak presiden,” katanya.

Namun, anehnya sebelum masuk ke ruang kerja presiden, ia dibisiki ajudan presiden untuk menganggap bahwa pertemuan tersebut tidak ada.

“Sebelum masuk ke ruang kerja, saya dibisiki Aspri, ‘pak menteri pertemuan ini tidak ada’. Saya ungkap ini karena ini hak publik untuk mengetahui di balik keputusan ini. Jadi bahkan Setneg tidak tahu, Setkab tidak tahu,” katanya.

Sudirman mengaku kaget begitu masuk ke ruang kerja presiden, sudah ada James Moffet.

Dalam pertemuan tersebut tidak ada pembicaraan panjang lebar.

Jokowi hanya memerintahkan membuat surat atau dokumen perpanjangan kontrak freeport di Indonesia.

“Tidak panjang lebar, presiden hanya katakan, tolong siapkan surat, seperti yang dibutuhkan. Kira-kira, kita ini ingin menjaga kelangsungan investasi lah. Nanti dibicarakan setelah pertemuan ini. Saya jawab ‘baik pak pres’, maka keluarlah saya bersama James Mofet ke suatu tempat. Freeport Indonesia juga tidak tahu Mofet itu ke Indonesia,” katanya.

Sudirman mengaku Mofet kemudian menyodorkan draft perpanjangan kerjasama kepadanya.

Setelah membacanya ia kemudian mengatakan kepada Moffet bahwa draft tersebut tidak sesuai.

“Kalau saya ikuti draftmu, maka akan ada preseden negara didikte korporasi. Saya tidak lakukan itu. You tell me what have been discussed with president, dan saya akan buat draft yang lindungi kepentingan republik,” katanya.

Sekitar pukul 15.00 WIB, ia kemudian balik lagi ke kantor ESDM.

Sudirman mengaku langsung mengumpulkan sekjen, biro hukum, dan bidang terkait untuk membuat draft surat perpanjangan kontrak.

Setelah rapat, draft yang dibuatnya kemudian dinyatakan clear.

“Namun saat itu belum saya tandatangani,” katanya.

Sudirman mengatakan draft tersebut kemudian ia serahkan kepada presiden.

“Bapak ibu mau tahu apa yang dikatakan presiden. Begini saja sudah mau, kalau mau lebih kuat, yang diberi saja (Mofet),” katanya.

Karena itu, menurut Sudirman surat perpanjang kontrak Freeport di Indonesia itu bukan atas inisiatifnya melainkan atas inisiatif presiden.

“Saya katakan surat itu perkuat posisi mereka, lemahkan posisi kita. Jadi kalau saya disalahkan karena posisi negara semakin lemah, maka salahkanlah yang menyuruh surat itu,” katanya

Berita sebelumyaKebocoran Gas, Food Court MTA Luluh Lantak
Berita berikutnyaJokowi Akui Bertemu Freeport Tapi Tidak Diam-Diam