Faisal Basri Sebut Rupiah Menguat Karena Pemerintah Menumpuk Utang

0
15

Presiden Joko Widodo mengatakan jika rupiah terus menguat sepanjang November ini. Jokowi pun menyebut penguatan akan terus berlanjut.

Menguatnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 15 ribu/dolar AS perlahan menguat hingga diangka Rp 14.500/dolar AS. Penguatan rupiah yang cukup signifikan ini dikatakan ekonom Senior INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) Faisal Basri bukan karena “keringat” pemerintah dalam memperbaiki perekonomian Indonesia, namun karena utang yang terus ditimbun.

“Kelihatan utang pemerintah itu naik. Utangnya lebih banyak sehingga ikut membantu nilai tukar rupiah. Jadi rupiah membaik bukan karena darah keringat kita [pemerintah Indonesia], tapi utang,” kata Faisal sewaktu memberi pemaparan dalam seminar nasional INDEF, di Hotel Bidakara, Rabu (28/11).

Faisal menjelaskan utang tercipta dari aliran modal atau investor asing yang masuk melalui surat berharga negara. Menurutnya, pemerintah “mengobral” suku bunga, sehingga investor banyak yang masuk ke Indonesia.

Meskipun demikian, Faisal tidak menampik bahwa, banyaknya modal asing yang masuk, bisa menguatkan nilai mata uang suatu negara, termasuk rupiah. Namun perlu diingat, hal ini hanya berlangsung dalam jangka pendek.

“Kalau rupiah pergerakan harian, fenomena moneter. Dalam jangka pendek, bisa hubungan antara CAD (Current Account Deficit) dengan rupiah. Mau CAD memburuk, rupiah bisa membaik, karena pemerintah utangnya sangat banyak.”

“Pemerintah obral suku bunga tinggi, biar uang datang. Jadi menguatnya rupiah karena uang datang, [modal] asing datang atau tidak itu dipengaruhi oleh berapa hasil investasi yang dia [investor] dapatkan di suatu negara. Kalau pemerintah naikkan suku bunga, ya modal otomatis datang, bukan karena percaya sama Indonesia,” jelas Faisal.

Jika ingin rupiah stabil, Faisal menegaskan, pemerintah harus memperbaiki defisit transaksi berjalan atau CAD, secara struktural. Jika tidak, maka rupiah masih bisa kembali melemah.

“Tahun depan jangka menengah, 99% rupiah akan melemah. Kalau bicara jangka panjang, hubungan rupiah dengan defisit transaksi berjalan itu erat sekali. Sepanjang defisit maka rupiah akan melemah. Tinggal persoalannya melemahnya berapa banyak,” tutupnya.

Berita sebelumyaEksodus Pengusaha Tionghoa ke Kubu Prabowo
Berita berikutnyaBUMN, Antara Cetak Laba dan Biaya Politik Penguasa