Pemerintah Harus Pikirkan Strategi Roll Over Utang 2019

0
27

Pemerintah diminta waspada akan jatuh tempo pembayaran utang luar negeri 2019.. Jika tidak diperhatikan akan membebani sektor finansial terutama neraca pembayaran.

“Profil utang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo pada 2019 mencapai US$ 54 miliar. Tapi US$ 26 miliar merupakan utang perusahaan internasional terhadap anak perusahaan,” kata Ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardana.

Sebelumnya, menurut catatan Bank Indonesia posisi utang luar negeri atau ULN Indonesia pada akhir kuartal III 2018 tercatat US$ 359,8 miliar. Utang itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 179,2 miliar, serta utang swasta termasuk BUMN sebesar US$ 180,6 miliar.

ULN pada akhir kuartal III 2018 tersebut tumbuh 4,2 persen secara year on year, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,7 persen. Perlambatan ini bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN pemerintah, di tengah meningkatnya pertumbuhan ULN swasta.

Menurut Wisnu, pembayaran utang ini patut diwaspadai sebab akan berpengaruh berkurangnya likuiditas dan pergerakan nilai tukar rupiah. Apalagi, saat ini neraca pembayaran masih tertekan akibat melebarnya defisitnya neraca transakai berjalan atau current account defisit.

Menurut Wisnu, pemerintah perlu memikirkan strategi roll over bagi pembayaran utang jatuh tempo tersebut. Sebab, tidak mungkin kebutuhan akan dolar AS untuk pembayaran hutang hanya mengandalkan cadangan devisa saja. “Artinya cadangan devisa bisa habis setengahnya kalau enggak bisa melakukan roll over,” kata dia.

Karena itu, Wisnu menuturkan, pada 2019 kondisi sektor finansial masih akan tertekan. Selain persoalan utang jatuh tempo, faktor melambatnya foreign direct invetment atau investasi langsung juga bakal memengaruhi kondisi sektor finansial sehingga ikut berkontribusi terhadap pergerakan nilai tukar.

Berita sebelumyaHadiri Maulid Nabi, Prabowo Disambut Takbir
Berita berikutnyaJokowi Pasang Listrik Gratis Saat PLN Terlilit Utang