Jenderal Polisi Terlibat Aksi Penyiraman Air Keras ke Novel Baswedan?

0
432

Penyidik KPK Novel Baswedan membeberkan informasi dugaan keterlibatan jenderal Polri dalam kasus penyerangan air keras yang menimpanya pada majalah Time.

Dalam wawancara yang dilakukan di Singapore General Hospital, Singapore pada 10 Juni 2017 itu, Novel menceritakan kasus teror yang menimpanya itu melibatkan perwira polisi.

Hal ini berdasarkan pada keheranannya karena Polri hingga kini belum bisa menemukan pelaku dan aktor dibalik serangan air keras yang menimpanya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017.

Novel mengatakan, ia telah mendapat informasi akurat dari seseorang tentang jenderal polisi yang terlibat. Namun saat itu, ia mengira informasi tersebut salah.

Tapi, setelah kasus ini berjalan dua bulan dan belum terselesaikan, Novel menilai informasi tersebut ada benarnya.

Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan mengaku tidak mengetahui perihal pemberitaan di majalah Time tersebut.

“Ada itu? Saya belum baca, nanti saya coba lihat. Enggak ada (Polisi Berbintang terlibat, -red),” ujar Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan.

Ketua KPK Agus Rahardjo pun enggan mengomentari dugaan Novel. Agus mengaku masih mempercayakan penanganan kasus Novel kepada Polri.

“Saya tidak boleh bicarakan ‎yang tidak jelas fakta dan datanya. Kami masih percayakan ini ke Polri,” ujar Agus, di KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sedangkan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyayangkan perihal pengakuan Novel Baswedan pada majalah Time tersebut.

Menurutnya, seharusnya Novel menyampaikan informasi tersebut kepada penyidik Polri dalam Bekas Acara Pemeriksaan (BAP) agar bernilai secara hukum. Dengan begitu diharapkan bisa membantu kepolisian dalam pengungkapan pelaku penyerangan Novel sebenarnya.

“Jadi begini, Novel itu kalau ada informasi, tolong dituangkan di dalam BAP, diceritakan di dalam BAP,” ujar Setyo di Mabes Polri, Jakarta.

Menurutnya, keterangan Novel yang tidak tertuang dalam BAP tidak akan ada manfaatnya secara hukum.

“Karena jika tidak, percuma saja, tidak ada nilainya di mata hukum. Tidak pro justicia,” ujarnya.

Meski begitu, Setyo mengaku belum membaca berita majalah Time tersebut. (Dini)

 

Berita sebelumyaCCTV Pria Wafat dalam Sujud Saat Tarawih di Masjid Tebet Jakarta Ini Bikin Merinding!
Berita berikutnyaMotor Terbang Bukan Lagi Impian!