Jelang Pemilu, Kaum Sunni Diperlakukan Seperti Simpatisan ISIS di Irak

0
122
Kondisi Irak masih tak stabil hingga saat ini (Reuters)

Di gerbang Tikrit di bawah papan reklame komandan milisi Syiah, ratusan warga Sunni Arab Irak menunggu di bawah terik matahari. Mereka berpanas-panasan selama berjam-jam hanya untuk digeledah sebelum dibiarkan memasuki kota yang dulunya basis kekuatan Saddam Hussein.

Kaum Sunni diperlakukan seperti simpatisan ISIS oleh pasukan keamanan dan milisi Irak yang didominasi Syiah. Warga Sunni disana merasa kecewa dan terasing menjelang pemilihan perdana menteri baru yang akan diselenggarakan pada 12 Mei mendatang.

Di bawah pemerintahan Saddam, kekuasaan terkonsentrasi pada minoritas Sunni Irak. Tapi, berubah semenjak invasi pimpinan AS pada 2003 yang menggulingkan Saddam yang dianggap diktaktor.

IS masih membayangi Irak hingga saat ini
IS masih membayangi Irak hingga saat ini (Reuters) 

Sejak jatuhnya Saddam, Syiah mendominasi Irak sejak saat itu. Siklus berubah menjadi pertumpahan darah dan balas dendam.

Enam bulan setelah kekalahan ISIS, orang-orang Arab Sunni Irak berada pada titik terendahnya. Hampir 2,3 juta orang terlantar, sementara yang lain berada di penjara atau menjadi pengangguran di kota-kota yang setengah hancur.

Mereka semua dicurigai terkait dengan militan garis keras Sunni. Situasi yang menyakitkan bagi mereka.

Shujaa Mohammed, 35 tahun, seorang mantan ahli penjinak bom militer dari Tikrit, mengatakan, ia pergi ke Baghdad ketika ISIS merebut kota itu pada 2014. Menawarkan untuk membantu pihak berwenang melawan balik.

“Para komandan mengatakan Anda berasal dari Tikrit, Anda semua ISIS. Lalu, saya memberi tahu mereka, ‘Periksa catatan kami dan hukum kami jika kami ISIS’. Mereka hanya membayar gaji kami,” kata Mohammed, yang berencana akan mencoret huruf X besar di seluruh kertas suara pemilu.

Terlepas dari kekecewaan yang meluas, banyak warga Sunni mengatakan, mereka ingin suara mereka didengar. Meskipun itu berarti merusak surat suara mereka atau mendukung kandidat yang tidak mereka yakini.

Hanya sedikit yang percaya pemilu akan berbuat banyak untuk memperbaiki nasib mereka. “Saya akan memilih, tapi saya tidak berharap apapun akan berubah,” kata Ghufran, seorang apoteker, 25 tahun, di Mosul.

Sumber: Jawapos.com

Berita sebelumyaParah, Pembunuh Berdarah Dingin Israel Hanya Dihukum Ringan
Berita berikutnyaIni Pemilu Terpanas dalam Sejarah Malaysia