Masih Di Bawah Umur, Siswa SMP Digilir 21 Pria

0
1146

Kekerasan seksual kembali terjadi, kali ini korban pemerkosaan masih berusia 13 tahun, siswi SMP di daerah Sulawesi Selatan.

Kejadian nahas ini pun membuat Komnas Perempuan semakin mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Agar pelaku mendapatkan sanksi tegas dan perlakuan untuk memulihkan sang korban.

“Kemudian yang sekarang kita dorong, kehadiran Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Ini adalah salah satu alternatif, terkait bagaimana juga pelindungan untuk korban. Dan pelaku anak ini juga diatur di situ,” ucap Komisioner Komnas Perempuan Masruchah, Selasa (24/10/2017).

Masruchah menambahkan ide untuk membuat jera dengan sanksi sosial, namun tetap bisa dituangkan dalam Undang-Undang.

“Kalau bicara penjeraan tidak harus dengan cara seperti itu. Ada sanksi sosial misalnya diusir dari wilayah itu, di mana untuk melakukan kerja-kerja sosial, ya harus dijauhkan dari korban. Karena korban ini traumanya luar biasa. Termasuk ada hukuman maksimal, begitu secara panjang tahunnya,” tukasnya.

Saat ini, 14 orang pelaku telah diamankan. Sebelumnya ada 6 orang pelaku namun dilepaskan karena masih dibawah umur.

6 orang tersebut tidak diganjar hukuman maksimal seperti orang dewasa lainnya. Namun, rehabilitasi sangat cocok bagi mereka.

“Meskipun kita bicara soal semua ada proses penjeraan, tapi kan kalau usia anak-anak ada rehabilitasi. Jadi artinya harus ada pendidikan untuk anak-anak yang pelaku itu. Karena untuk usia anak-anak ini kan pasti belum bisa mengambil keputusan secara utuh atau atas dirinya. Bisa karena pengaruh, dan seterusnya,” jelas Masruchah.

Bagi sang korban tentunya wajib mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat. Bila keluarga tak mampu memulihkan korban, pemulihan bisa diberikan dari masyarakat sekitar tempat tinggal.

“Namanya juga hidup sosial bermasyarakat, sekitarnya itu punya peran untuk melakukan perlindungan. Kalau misalnya korban tidak mendapati pemulihan dari keluarganya, ya sekitarnya yang peran keduanya adalah masyarakat. Meskipun negara punya peran pertama dalam tanggung jawabnya. Tetapi kan negara bisa mendorong hadirnya lembaga-lembaga perlindungan untuk korban di komunitas-komunitas,” tutup Masruchah.

Berita sebelumyaCinta Kuya Dibully, Uya Kuya Marah Besar dan Lakukan Hal ini
Berita berikutnyaRusia: Koalisi Militer AS telah Bombardir Raqqa ‘Hingga Rata dengan Tanah’