KPAI Anggap Kebijakan Full Day School Bertentangan Dengan Otonomi Pendidikan

0
382

Ketua KPAI Susanto menilai, kebijakan penyeragaman lima hari sekolah atau full day school bertentangan dengan semangat otonomi daerah dan otonomi pendidikan bagi sekolah-sekolah.

Menurutnya, setiap daerah memiliki keragaman dan kekhasan masing-masing, sejak diterbitkannya UU Sistem Pendidikan Nasional, keberagaman dan kekhasan daerah masing-masing mulai tersisihkan. Padahal sekolah diberbagai daerah Indonesia memiliki otonomi penuh untuk mengelola sistem pendidikan sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing, lebih terutama terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak.

“Secara prinsip ketentuan berapa jam sehari di sekolah dan berapa hari bersekolah itu urusan teknis yang menjadi domain sekolah dan kewenangan Pemprov dan Kabupaten/Kota yang tertera dalam UU Nomor 23/2014 tentang Otonomi Daerah,” ujar Susanto saat konferensi pers di kantornya, Menteng, Jakarta, Selasa (15/8).

Lebih lanjut, Susanto menilai kebijakan penyeragaman lima hari sekolah atau 40 jam per minggu berpotensi melanggar UU Perlindungan Anak. Sebab, membiarkan anak menetap lebih lama di sekolah mengurangi hak orang tua atau wali untuk memiliki waktu yang seimbang bertemu dengan anaknya sendiri atau bahkan waktu interaksi anak di luar jam belajar dengan teman sebaya.

Padahal, negara, pemerintah dan pemerintah daerah menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memerhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali atau orang lain yang secara hukum bertanggung jawab terhadap anak. Sebagaimana ketentuan pasal 23 ayat 1 UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

Semestinya, pemerinah berkonsentrasi memenuhi delapan standar nasional pendidikan sehingga pemerataan fasilitas, sarana dan prasarana, pendidik yang berkualitas dan ramah anak dapat terpenuhi.

“Pendidik yang ramah anak merupakan prasyarat agar sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk semua anak. Presiden perlu mengambil langkah cepat dan tepat atas kontroversi kebijakan lima hari sekolah. Hal ini semata-mata untuk kepentingan terbaik bagi anak dan menjaga dampak negatif dari berlarut-larutnya kontroversi kebijakan dimaksud,” pungkas Susanto.

Berita sebelumyaWaw, Nenek 98 Tahun Ini Lamar Kekasihnya Yang Berumur 94 Tahun
Berita berikutnyaCanggih Mobil Patroli Dubai Pakai Robot