Obesitas, Penyebab Kematian yang Kerap Disepelekan

0
283
Ilustrasi obesitas (Foto: netralnews.com)

Penderita Obesitas kehilangan tiga tahun harapan hidup

Berkabar.id – Senin pagi (11/12), pukul 05.45 WIB, sebuah kabar duka datang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang, Jawa Barat. Yudi Hermanto, pria berusia 33 tahun itu sempat mengalami sesak napas dan kejang sebelum kemudian mengembuskan napas terakhirnya.

Yudi Hermanto bukanlah seorang aktivis atau sosok pejabat yang kematiannya dapat menyita perhatian publik. Tapi penyebab kematian Yudi memang tak boleh disepelekan. Sebab ia meninggal dengan kondisi badan yang amat besar. Berat badannya kala itu sekitar 310 kilogram. Ya, Yudi menderita obesitas, sebuah penyakit yang selama ini kerap dipandang sebelah mata oleh kita.

Obesitas bukan hal baru terjadi di Indonesia. Dilansir dari CNN Indonesia, kian hari semakin banyak masyarakat Indonesia yang mengalami obesitas. Bertumpu pada data Riset Kesehatan Nasional (Riskernas), di tahun 2016 saja ada sebanyak 20,7% penduduk berusia di atas 18 tahun yang mengalami obesitas. Angka tersebut diklaim naik 15,4% dari tahun 2013.

Tingginya angka penderita obesitas di Indonesia tentu saja tak terlepas dari pola makan yang kurang teratur. Ditambah lagi kurang pedulinya masyarakat dalam memilih-milih makanan menjadi pemicu kian menggemuknya badan. Seringnya mengonsumsi jajanan di luar yang banyak mengandung gula, pemanis buatan dan soda tentu dapat meningkatkan risiko obesitas.

“Pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini mirip dengan masyarakat Amerika 20 tahun yang lalu. Pada saat itu, makanan cepat saji dan minuman bersoda sangat populer,” terang Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), dr Budi Wiweko.

Sebelum Yudi Hermanto, di wilayah Karawang pun pernah ada penderita obesitas. Namun usianya jauh lebih muda. Ialah Arya Permana, bocah yang kini duduk di kelas 5 SD pernah memiliki berat badan 131 kilogram. Namun kini nasib Arya jauh lebih baik sebab ia berhasil menurunkan berat badannya sampai di angka 60 kilogram. Bahkan Arya sudah bisa berjalan ke sekolahnya dan bermain bersama teman-temannya.

Arya berhasil menurunkan berat badannya berkat diet dengan mengubah pola makan dan mendapatkan training personal bersama mantan atlet binaragawan Indonesia, Aderai. Bahkan Aderai kerap membagikan perkembangan Arya melalui akun Instagram-nya. Tapi bukan hanya diet, untuk bisa menurunkan berat badannya, Arya harus menjalani operasi penyempitan lambung.

Obesitas Jadi Penyebab Kematian Kedua Terbanyak di Eropa dan Amerika

11 Oktober didaulat sebagai Hari Obesitas Sedunia oleh World Health Organization (WHO). WHO sudah sejak lama mencanangkan pencegahan untuk menekan angka penderita obesitas di dunia. Berdasarkan hasil penelitian yang di-publish oleh Lancet pada Juli 2016, mengungkapkan data risiko kematian dini akibat obesitas rentan terjadi di usia 35 dan 70 tahun.

Berdasarkan data, pria yang menderita obesitas memiliki risiko 29,5% alami kematian dini, sedangkan untuk perempuan sebanyak 14,6%. Dalam hal ini pria memang akan lebih tinggi mengalami risiko kematian dini akibat obesitas dibandingkan perempuan.

Sementara orang-orang yang mengalami obesitas memang diketahui berisiko mengalami kematian lebih cepat daripada orang berbadan normal.

Salah satu penulis sekaligus peneliti, Dr Emmanuele Di Angelantonio dari Universitas Cambridge menuturkan bila penderita obesitas akan kehilangan tiga tahun harapan hidup. “Rata-rata orang yang kelebihan berat badan kehilangan sekitar satu tahun harapan hidup. Dan orang-orang yang obesitas kehilangan sekitar tiga tahun harapan hidup,” terangnya seperti dilansir dari Telegraph.

Lebih lanjut, Prof. Sir Richard Peto dari Universitas Oxford yang juga terlibat dalam penelitian tersebut mengungkapkan, satu dari tujuh kematian dini dapat dihindari di Eropa dan satu dari lima untuk di Amerika. “Obesitas adalah yang kedua setelah merokok sebagai pengebab kematian dini di Eropa dan Amerika Utara,” paparnya.

Penyebab Kematian Dini Penderita Obesitas

Umumnya penderita obesitas memiliki gangguan pada irama jantung. Meski tidak semua jenis gangguan irama jantung ini berbahaya, tapi bagi penderita obesitas hal ini dapat memicu kematian dini. Sebab irama jantung yang semula jinak bisa saja berubah ganas sehingga menyebabkan kematian mendadak. Atau hematnya, serangan jantung.

Hal ini terjadi sebab jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah bagi tumbuh penderita obesitas. Dan bila jantung terus bekerja keras maka akan terjadi penebalan pada otot jantung.

Demikianlah yang diterangkan oleh dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpKP(K), FIHA dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). “Penebalan otot jnatung dapat mengakibatkan gangguan kelistrikan pompa jantung. Jantung berdetak begitu cepat, penyebaran darah tidak efisien dan menyebabkan kematian mendadak,” terangnya yang 2016 lalu di sebuah acara Hari Jantung Sedunia seperti menukil dari Detik.com.

Selain karena gangguan irama, kematian mendadak yang menyerang penderita obesitas bisa berasal dari hipertensi. Ini akibat menumpuknya lemak dalam pembuluh darah. Hal itu disampaikan oleh Ketua PP Perki dr Ismoyo Suni, SpJP9K), FIHA, FASCC, yang menyebutkan jika korelasi antara dua penyakit ini begitu besar. Tapi sayangnya masih sedikit masyarakat yang paham.

Obesitas adalah penyakit yang kerap disepelekan namun dapat begitu mematikan. Jalan pertama untuk bisa menghindarinya ialah dengan menjaga pola makan dan berat badan. Bila Anda ingin tahu apakah Anda termasuk penderita obesitas atau bukan, maka segeralah hitungBody Max Index (BMI) Anda. Sebab batas berat badan normal setiap orang berbeda-beda.

Berita sebelumyaHacker Rusia Gondol Rp 135 M Setelah Bobol 18 Jaringan Bank
Berita berikutnya5 Tips Liburan Akhir Tahun yang Hemat dan Berkesan