Mengintip Tradisi Pembuatan Ciu di Desa Bekonang

0
1134
foto: dok. kompas

Seperti Munich, Jerman yang terkenal dengan sentra pembuatan wine tradisionalnya, di Indonesia juga terdapat desa sentra industri alkohol yang melegenda sejak zaman Belanda.

Matahari menyengat, ketika kami menyusuri jalan-jalan kecil di Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Tak ada lalu lalang kendaraan laiknya ibukota. Hanya ada senyum renyah penduduk yang kami temui tatkala menyusuri pinggiran sawah yang menghampar hijau.

Itulah Desa Bekonang, desa yang terkenal dengan kerajinan ciu. Ciu adalah minuman beralkohol 35 persen yang berasal dari tebu dan yeast (bakteri fermentasi). Minuman ini seperti arak atau wine yang diproduksi secara tradisional, turun temurun sejak zaman Belanda atau sekitar tahun 1940-an.

Bau tetes tebu terfermentasi dapat ditemui di tiap-tiap rumah di Desa Bekonang. Bahkan sesekali terdengar suara letupan kecil dari tungku perapian. Pekerja pun mengecek alat destilasi dan drum-drum air warna kecokelatan. “Hampir 90 persen warga Bekonang adalah pengrajin Ciu,” kata Sabariyono, Ketua Paguyuban Pengrajin Alkohol Bekonang.

Puluhan drum-drum berisi air kecokelatan yang berbuih memenuhi dapur warga yang menjadi tempat pembuatan ciu. Seperti yang terdapat di dapur Bu Sutinah, warga Bekonang yang sudah puluhan tahun menjadi pengrajin ciu.

“Kita memproduksi ciu sudah sejak zaman nenek moyang dulu,” kata Sutinah. Ciu Bekonang, menurut Sutinah, konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Mangkunegaran. Bahan dasar tebunya tak lepas dari keberadaan perkebunan tebu milik Mangkunegaran yang menjadi bahan pokok pabrik gula Tasik Madu.

Dulu, perkebunan tebu banyak dijumpai di daerah Palur, Karanganyar. “Tapi kini perkebunan itu sudah tertutup oleh kompleks perumahan dan persawahan seiring tutupnya pabrik Tasik Madu dan Colo Madu,” ujar Sutinah.

Bahkan kata Sutinah, Ciu Bekonang sempat dilarang keberadaannya pada zaman Belanda. Karena saat itu produk minuman alkohol buatan barat kalah saing dengan Ciu Bekonang yang murah meriah. “Petinggi kerajaan dan rakyat lebih suka mengonsumsi Ciu Bekonang,” kata Sutinah menambahkan.

Aroma tebu merebak di rumah Sutinah. Tetes-tetes tebu itu disuling dengan kuali terbuat dari tanah liat yang dimodifikasi ala kadarnya. Lalu diberi bakteri atau yeast. Air tebu yang sudah diberi yeast dimasukkan ke dalam drum hingga warnanya berubah kecokelatan. Drum-drum itu kemudian disembunyikan di dalam tanah atau didiamkan sampai proses fermentasi selesai.

Walaupun dapur pembuatan ciu ini terlihat kumuh, namun ilmu pembuatan alkohol berbasis tradisional ini masih bisa terlihat. “Dulu, drum-drum berisi ciu yang sudah siap konsumsi ini, dibawa ke kota dan dijual per slot atau satu cangkir kecil,” ujar Sutinah.

Entah dari mana warga Desa Bekonang ini mendapatkan yeast. Yang pasti, yeast yang digunakan warga di sini masih sama dengan yeast yang digunakan nenek moyang mereka selama ratusan tahun lalu. Cara mengolahnya pun sama, seperti yang diajarkan turun temurun.

Jika ada satu rumah yang gagal produksi dan kehilangan yeast-nya, mereka akan meminta ke rumah sebelah. Begitu pun sebaliknya. Cara sederhana ini justru mampu menjaga yeast bertahan selama ratusan tahun.

Kata Sutinah, proses fermentasi yang dilakukan selama tujuh hari menghasilkan ciu beralkohol 12 persen dan bisa dikonsumsi. Selama tujuh hari, adonan fermentasi tebu akan sedikit bereaksi dengan mengeluarkan suara gemuruh disertai letupan kecil di permukaan. “Suara-suara inilah yang dari tadi kita dengar,” ujarnya.

Sementara fermentasi tebu yang didiamkan selama sembilan hari lalu disuling kembali akan menghasilkan kadar alkohol 85 persen. “Alkohol untuk medis inilah yang saat ini sedang digalakkan. Meski terkadang kita juga menjual ciu,” kata Sutinah.

Hal ini dibenarkan Subariyono. Menurutnya, Desa Bekonang memang dikenal dengan pembuatan ciu tapi saat ini dari tingkat kabupaten mengarahkan warganya untuk membuat alkohol medis. Bahkan nantinya akan berevolusi menjadi pupuk cair dan bioetanol.

Evolusi produksi ciu ini dilakukan setelah melewati beragam pertentangan di masyarakat. Bahkan untuk memuluskan produksi ciu, banyak perajin yang harus merogoh kocek dalam-dalam terkait perizinan, razia, dan sebagainya. Tak heran bila saat ini banyak perajin ciu yang terpaksa menutup usaha mereka.

Padahal, rumah-rumah produksi ciu ini diakui pemerintah daerah Sukoharjo sebagai salah satu sumber pendapatan daerah.  Bahkan saat ini, Desa Bekonang menjadi salah satu objek wisata yang banyak diminati wisatawan asing untuk melihat proses pembuatan ciu secara tradisional. (Adfi)

Berita sebelumyaKim Kardashian dan Kanye West Pisah?
Berita berikutnyaPTUN Menangkan Putusan Jokowi yang tidak Menonaktifkan Ahok