Pohon Taru Menyan, Pohon Ajaib Di Desa Trunyan Bali

0
1738
foto: dok. wikipedia

Terletak di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Trunyan, desa terpencil di tepi Danau Batur, memiliki pohon ajaib yang dapat menetralisir bau kematian.

Bali memang memiliki eksotisme tersendiri, tidak hanya dari pemandangan alamnya tapi juga dari adat istiadat, tradisi dan budaya, termasuk tradisi pemakaman di desa Trunyan. Desa Trunyan dihuni oleh suku Bali Aga atau Bali Mula yang masih memegang teguh kepercayaan leluhurnya. Suku ini merupakan suku pertama yang menghuni pulau Bali.

Tak seperti masyarakat Bali kebanyakan, yang mengkremasi atau mengubur jenazah kerabat yang meninggal sesuai dengan ajaran agama Hindu, masyarakat desa Trunyan hanya menyimpan jenazah kerabatnya di tanah dengan ditutupi  kain dan bambu yang berbentuk prisma. Mereka menyebut tradisi ini sebagai Mepasah atau Ngutang Mayit.

Tradisi pemakaman di Trunyan ini sangat unik. Sebelum diletakkan di pemakaman, jenazah harus melewati upacara pembersihan dengan cara dimandikan dengan air hujan. Setelah itu, barulah jenazah diletakkan di tanah pemakaman yang letaknya sangat terpencil dan terisolasi.

Lokasi pemakaman desa Trunyan ini berada di wilayah yang berbahaya, ia bertengger di sebuah gunung berapi aktif di tepi sebuah danau kawah berombak yang bisa terancam oleh letusan lahar gunung berapi dan juga air. Atas alasan takut menimbulkan kemarahan gunung berapi, yang dipercayai sebagai dewa Hindu Brahma, maka masyarakat Trunyan membiarkan jenazah kerabatnya membusuk begitu saja tanpa di kubur atau dikremasi.

Bertempat di lereng curam yang sekelilingnya di kelilingi oleh hutan, para jenazah ini diletakkan begitu saja di bawah pohon Taru Menyan dengan tubuh terbalut kain putih atau mengenakan pakaian favorit mereka. Sebagai penanda, jenazah ditutup bambu yang disusun membentuk prisma dan disebut ancak saji. Lalu di atasnya ditaruh sebuah payung berwarna cerah untuk melindungi jenazah dari sinar sang surya. Jenazah pun ditinggalkan begitu saja dan dibiarkannya membusuk di udara. Uniknya, meski para jenazah itu tak dikubur di dalam lubang, tapi mereka tak menimbulkan bau menyengat laiknya bangkai.

Pohon Taru Menyan merupakan pohon ajaib yang mengeluarkan aroma yang dapat menetralisir udara di sekitar. Taru sendiri berarti pohon, dan menyan berarti harum. Anehnya lagi, pohon yang mengeluarkan aroma khas yang kuat itu hanya bisa tumbuh di daerah Trunyan, meskipun telah dicoba ditanam di daerah lain.

Menurut kepercayaan masyarakat Trunyan, desa Trunyan ini didominasi oleh angka 11 dimana hal ini tercermin pada bangunan kuil yang memiliki 11 pagoda, dan jumlah pemakaman di tiap pohon Taru Menyan hanya bisa dilakukan untuk 11 jenazah dengan 11 lengkung kelapa. Hal ini sudah diatur oleh kepercayaan adat setempat. Jadi bila ada yang meninggal lagi di desa Trunyan, maka satu jenazah  yang paling lama akan dipindahkan ke tempat terbuka, tidak ditutupi kurung ancak saji lagi tetapi disatukan dengan jenazah lainnya di dalam tatanan batu atau di bawah sudut pohon.

Tak heran, bila Anda mengunjungi pemakaman masyarakat Trunyan ini, Anda akan menemukan tulang belulang dan barang-barang bekal sesaji seperti sandal, sendok, piring, pakaian dan lainnya berserakan di area pemakaman. Menurut adat setempat, hal itu memang sengaja dibiarkan karena tidak boleh ada barang yang dibawa keluar dari area pemakaman tersebut. Bahkan tak jarang bila tulang belulang mereka ada yang hilang. Masyarakat setempat percaya, para monyet yang tinggal di hutan dekat lereng pemakaman ini berpesta, menikmati persembahan makanan yang tersisa untuk dewa.

Berada di pemakaman masyarakat Trunyan ini, terasa begitu tenang. Anda akan melihat banyak tatapan kosong dari tengkorak-tengkorak kepala yang berserakan di sudut-sudut pemakaman. Bahkan Anda pun masih bisa melihat sesosok jenazah dengan tubuh yang menghitam, dimana daging mereka yang tipis dan kisut masih menempel di tulang tengkorak. Sebuah pemandangan yang sedikit aneh dan menakjubkan.

Pada masyarakat Trunyan sendiri, terdapat tiga jenis sema (makam) yang sudah diatur oleh adat istiadat daerah setempat. Mereka dibedakan berdasar pada umur orang yang meninggal, keutuhan bagian tubuh, dan cara penguburannya.

Mepasah merupakan jenis sema yang pertama atau yang disebut sema wayah, dimana sema ini dianggap sebagai sema yang paling baik dan paling suci. Tak sembarangan orang bisa dimakamkan dengan tradisi unik ini. Tubuh-tubuh yang kaku itu hanya bisa dibawa ke pemakaman dan kuil pada hari-hari keberuntungan. Jika hari keberuntungan itu belum datang, maka jenazah itu akan tinggal di rumahnya selama berhari-hari, menunggu hari keberuntungannya, dan keluarga memiliki waktu mengumpulkan uang untuk pemakaman.

Tak hanya itu, ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi jenzah bila mereka ingin dimakamkan di pemakaman suci masyarakat Trunyan ini. Yaitu, mereka termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal, orang-orang yang meninggal dalam keadaan wajar dan tidak terdapat luka yang belum sembuh, serta memiliki bagian tubuh yang lengkap. Jika syarat-syarat itu tidak terpenuhi oleh jenazah, maka ia akan disemayamkan dengan jenis sema yang lain.

Sema kedua, adalah sema muda, dimana di tempat ini jenzah dikebumikan dengan cara dikubur. Sema ini diperuntukkan buat mereka yang masih anak-anak atau bayi yang gigi susunya belum tanggal. Sedang jenis sema ketiga adalah sema bantas. Sema ini tak jauh beda dengan sema muda, dimana jenazah disemayamkan dengan cara dikubur. Namun sema ini hanya diperuntukkan buat orang-orang yang Ulah Pati dan Salah Pati, yaitu mereka yang saat meninggal masih meninggalkan luka dan penyebab kematiannya tidak wajar seperti kecelakaan, kehilangan nyawa karena tindakan orang lain, bunuh diri, atau ada bagian tubuh yang tidak utuh.

Di sana, di Trunyan, sebuah masyarakat tinggal dikelilingi oleh pengingat kematian yang mereka bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana tubuh ini membusuk dan meninggalkan tulang. Di sana, dimana tak satu pun maysrakat Trunyan yang merasa sedih tatkala melihat tengkorak jenazah kerabatnya sendiri. Itulah Trunyan, dengan ketenangan yang aneh dan warisan budaya yang unik. (lia joulia)

Berita sebelumyaPTUN Menangkan Putusan Jokowi yang tidak Menonaktifkan Ahok
Berita berikutnyaTeknologi Ini Mampu Mengenali Pengemudi yang Melanggar Lalu Lintas di Jalan Raya