Megawati Buka Suara, Mengaku Terenyuh Melihat Ahok Dipenjara

0
209
Foto: dok. kompas

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri buka suara terkait vonis dua tahun penjara Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Megawati merasa terenyuh melihat banyak simpatisan yang datang ke lapas tempat Ahok ditahan.

“Kalau saya sampai terenyuh, itu menandakan sebuah kesedihan yang luar biasa dan tak bisa diungkapkan,” kata Mega seperti dilansir Kompas.com saat menghadiri peresmian Kantor Sekretarian PDI Perjuangan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, kemarin.

Mega menegaskan, Ahok itu pemimpin rakyat. Mencari seorang pemimpin rakyat itu tidak gampang.  Mega juga mengungkapkan kalau ia juga kerap ditanya alasannya memilih Ahok sebagai Gubernur Jakarta.

“Kenapa bu Mega memilih Ahok? Ya, karena saya mau punya pemimpin rakyat, pemimpin pemerintahan bukan pemimpin agama atau suku dan golongan,” kata Mega. Mega lalu mengaitkan kepemimpinan Ahok dengan vonis sidang kemarin. “Semua bisa lihat kan, saat kemarin sidang diputuskan. Bagaimana reaksi rakyat Jakarta saat Ahok disuruh masuk langsung ke tahanan. Ada koneksitas antara mereka yang mencintai dengan yang dicintai rakyatnya,” tambah Mega.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok memang sudang dinyatakan sebagai tersangka atas kasus penodaan agama pada sidang kemarin, Selasa (9/5/2017). Ia dinilai bersalah dan divonis dua tahun penjara oleh hakim.

Vonis yang dibacakan di Auditoriam Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan ini menjerat Ahok dengan pasal 156a KUHP. Ahok pun langsung ditahan. Awalnya, Ahok akan dibawa ke Rutan Kelas 1 Cipinang. Namun dengan alasan keamanan, penahanan mantan Bupati Belitung itu dipindahkan ke tahanan Markas Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Rabu dini hari.

Semenjak divonis, banyak warga Jakarta yang datang bersimpati, berdemo, sampai memberikan karangan bunga.

 

Berita sebelumyaPemilik IQ tertinggi Bukan Albert Einstein dan Stephen Hawking Lagi?
Berita berikutnyaJoyce, Si Pengemudi Taksi Online yang Bikin Betah