Kiat Bisnis Kuliner Kekinian Umur Panjang

    0
    36

    Fenomena bisnis kuliner modern mewabah dalam periode 5 tahun terakhir memberikan kegembiraan bahwa virus berwirausaha telah menyebar luas di masyarakat. Sebutlah bisnis kuliner seperti Thai Tea, Kepal Milo, Sosis Telur, Nugget Pisang, Makaroni, Cappucino Cincau dan lain lain.

    Oleh para pebisnis kreatif, bahkan produk produk kuliner kekinian tersebut telah secara sukses dikembangkan dengan sistem franchise/kemitraan dengan ribuan outlet telah berdiri di seluruh indonesia. Di setiap mulut gang kampung, sekolahan, minimarket bahkan juga stasiun bertebaran bisnis kuliner kekinian model booth.

    Menjamurnya bisnis kuliner model ini selain karena keunikan produk (ide yang fresh), juga karena investasi kemitraan yang relatif terjangkau. Dengan investasi 3 – 8 juta rupiah, Anda sudah bisa memiliki bisnis kemitraan kuliner yang menarik dan menguntungkan. Percepatan penyebaran bisnis kuliner kekinian didorong secara massive oleh penggunaan media sosial untuk menularkan gaya hidup termasuk konsumsi kuliner.

    Namun tren bisnis kuliner kekinian itu tidak berlangsung lama. Jaman ramainya Cappucino Cincau, hanya berumur kurang dari 1 tahun booming-nya. Berikutnya, sudah tidak heboh lagi. Demikian juga Nugget Pisang dan Kepal Milo yang booming hanya seumur jagung.

    Cepat menyebar ke seluruh penjuru, lalu sepi, sunyi, hening seketika. Seperti menyiramkan air di padang pasir. Nampak basah sesaat, lalu kering dengan cepat. Dan akan muncul bisnis sejenis dengan cepat, lalu menghilang lagi. Begitu dan berulang. Itulah fenomena bisnis kuliner kekinian yang kita akan ulas

    Apa Sebab?

    Mengupas lifecycle bisnis kuliner kekinian yang sangat pendek, maka dapat diduga disebabkan oleh hal hal sebagai berikut :

    1. Curiosity. Menu Kuliner kekinian cenderung adalah menu menu yang “nabrak, tidak lumrah, kebaruan, unik” dan lain lain yang memancing orang untuk PENASARAN menjajalnya. Istilahnya lainnya merangsang orang berpetualang lidah. Dorongan pembelian karena penasaran/curiosity ini akan berhenti manakala terpenuhi rasa penasarannya melalui mencicipi untuk pertama kalinya produk tersebut. Hasilnya bisa saja orang puas atau bahkan tidak doyan. Yang terucap dari mulutnya adalah kalimat “oh… begini ya rasanya”. Sudah itu saja.

    2. Gaya Hidup. Mengkonsumsi produk diatas bisa mengkonfirmasi bahwa seseorang telah masuk dunia “kekinian” juga, gaul, dan tentu saja tidak ketinggalan jaman. Ketiak media sosial membanjiri dengan informasi nugget pisang, rasanya sangat tidak gaul kalau kita belum mencicipinya. Eksperience setelah mengkonsumsinya, berguna ketika komunitas bergaul membicarakan menu kekinian sehingga kita tidak akan menjadi manusia kudet. Sebatas itu.

    3. Target Market. Dapat dijelaskan bahwa mayoritas kuliner kekinian menjadikan populasi demografis tergemuk yakni kaum milenial, sebagai target marketnya. Salah satu ciri generasi milenial adalah dinamis, gampang bosen sesuatu hal. Jangankan soal makanan, bahkan generasi millenial rela meninggalkan pekerjaan dan mencari pekerjaan lain yang disukainya. Kebayangkan sebagai pebisnis kuliner, anda harus mengikuti dinamika generasi millenial tersebut.

    4. Produk dan Persepsi Produk. Antara produk dan persepsi produk adalah 2 hal yang berbeda. Bisa saja kualitas sebuah produk biasa saja, namun dengan “make up” marketing yang keren, persepsi atas produk tersebut menjadi sedemikian luar biasa. Akibatnya, ketika konsumen menggunakan produk tersebut tidak sesuai persepsinya, mereka akan kecewa dan tidak akan membeli kembali.

    Membangun Bisnis Kuliner yang Jangka Panjang

    Jika anda ingin terjun ke bisnis kuliner, selayaknya anda pertimbangkan beberapa hal berikut agar bisnis anda bertahan jangka panjang

    1. Gali Potensi Kuliner Lokal. Indonesia kaya akan kuliner. Nasi Pecel, Cireng, Soto, Es Buah, Wedang Jahe, Es Lilin, Es Pisang Ijo, Sate Padang, Bakso dan lain lain. Apa keuntungan mengangkat produk lokal? Anda tidak perlu terlalu mengedukasi, orang sudah memiliki presepsi di kepala nya tentang produk tersebut. Berarti ½ pekerjaan anda memarketingkan produk anda sudah selesai.

    2. Tambahkan citarasa kekinian. Apakah dari sisi praktisnya, kemasannya, penyajiannya ataupun varian rasanya. Bayangkan kalau anda jualan Wedang Jahe. Yang dulu biasa dijual di kedai kedai di kampung. Sekarang wedang jahe dijual dengan konsep berbeda, dengan pakai logo dan identitas lebih bermain warna, seruput wedang jahe pakai gelas sekali pakai seperti kedai kopi brand global, kebayang kan? Minuman kampung masuk mall, masuk gang gang perkotaan,.

    3. Ciptakan lebih dari sekedar Curiosity (Penasaran), tapi Need (Kebutuhan). Menciptakan rasa penasaran penting, namun tidak cukup. Sebuah produk minuman kekinian nampak menarik, memancing rasa penasaran untuk mencoba. Setelah mencicipi, apakah benar benar enak? Apakah menuhi harapan? Apakah sama dengan persepsi produk? Jika tidak, maka jangan harap akan ada pembelian ke 2 dst. Antara produk dan persepsi produk haruslah kongruen, sesuai ekspektasi. Back to Quality !

    4. Tambahkan Segment Pasar. Soto Lamongan berasal dari Jawa Timur. Populasi penduduk lamongan tidak banyak, namun sebaran warung soto lamongan menjangkau seluruh pelosok negeri. Siapa konsumennya? Adalah para perantau suku jawa, bukan lagi perantau dari lamongan semata. Penduduk suku jawa sangat besar dan menyebar di seluruh penjuru nusantara. Bahkan suku lainpun lama kelamaan familier dengan soto lamongan. Inilah penambahan segmen pasar dari sekedar warga lamongan, suku jawa, lalu melebar ke seluruh warga bangsa. Soto Lamongan, Nasi Pecel, Ayam Bakar, Soto Kudus, Mie Aceh adalah kuliner kuliner lokal yang mulai menjadi kuliner nasional seperti Nasi Padang. Lihatlah sekarang, di manapun juga kita bisa menemukan restoran padang
    Demikian tips berbisnis kuliner agar bisnis anda bisa berumur panjang. Selamat berbisnis.

    Oleh : Ridwan Mahmudi

    Foto: ist

    Business Coach, 081317115250
    www.strategy-cs.com

    Berita sebelumyaJokowi Diganjar Gelar Datuk Seri Setia Amanah
    Berita berikutnyaMenarik Minat Investor Asing, Pendanaan Meningkat 300% pada 2017