Kuda Lumping: Atraksi Berbahaya yang Penuh Pesona

0
690

Siapa yang tak tahu dengan kesenian rakyat satu ini, Kuda Lumping. Buat masyarakat Jawa, Kuda Lumping atau Jaran Kepang adalah tarian tradisional yang merupakan bagian dari pagelaran Reog.

Kuda lumping biasanya menampilkan sekelompok orang yang menunggang kuda, dimana kudanya terbuat dari anyaman bambu. Para penari berlenggak-lenggok di atas anyaman kuda mengikuti irama gending. Tak jarang tari ini menampilkan atraksi magisnya, seperti kesurupan dan kekebalan tubuh.

Di masyarakat Betawi, atraksi Kuda Lumping merupakan salah satu bentuk hiburan rakyat. Biasanya atraksi digelar pada malam hari di tanah lapang menjelang liburan panjang.

Para pemain kuda lumping yang umumnya berpakaian serba hitam, bersiap di atas kudanya. Sementara pemain lainnya mempersiapkan diri dengan benda-benda tajam, seperti beling di dalam baskom, golok ataupun obor. Sang ketua pertunjukan pun bersiap memegang pecut di tangan.

Sang ketua biasanya adalah guru spiritual yang mengendalikan pertunjukkan, termasuk hal-hal magis di dalamnya. Sebelum pertunjukkan dimulai, ada ritual khusus yang dilakukan ketua pertunjukkan. Misalnya mencari tahu siapa saja warga sekitar yang memiliki ilmu serupa. Jika didapati, maka kru pertunjukkan akan mendatangi rumah warga tersebut dan mohon izin agar pertunjukkannya berjalan lancar.

Dan ketika gending dimainkan, pemain kuda lumping pun menari-nari, pecut dihentakkan membuat penonton kaget dan ketakutan. Ketika pecut berbunyi keras, tandanya sang penari kuda menari dengan cepat tanpa sadar. Ini tandanya, sang penari sudah kesurupan.

Permainan tak berhenti di situ. Sang ketua pun menghentakkan pecutnya kembali, memberi tanda pada penari untuk menuju ke satu tempat. Penari lalu meraih beling di baskom dan memakannya. “Krauk..krauk..krauk..”. Suara penari mengunyah pecahan beling di mulut.

Sang penari menikmati hidangan beling yang tersedia. Seperti makan kerupuk, beling di baskom habis tanpa sisa. Tak satu pun darah mengalir dari mulut sang penari. Sementara para penonton merasa ngeri dan ketakutan. Mereka menutup wajah dengan tangan, ada pula yang penasaran melototi penari tanpa kedip.

Semakin malam hiburan Kuda Lumping semakin menjadi. Penonton pun semakin ramai. Kantong-kantong uang mulai disebar. Penonton merogoh kocek dan memberi saweran.

Atraksi Kuda Lumping pun mulai mempertontonkan kebolehan ilmu kekebalan tubuh. Golok yang tajam diacungkan ke tubuh penari kuda lumping, menggores kulit hitam mereka. “Ciat..ciat..ciat..”, sesekali suara hentakan terdengar sayup dari keramaian. Penonton bersorak lirih antara ketakutan dan takjub. Sang penari tak terluka sedikit pun oleh goresan golok tajam.

Pecut kembali menghentak. Gending masih dimainkan. Tandanya penari kembali ke kudanya dan menari sambil anggota lain mempersiapkan atraksi lainnya.

Kali ini sebagai penutup, sang penari akan membakar dirinya sendiri. Seliter minyak tanah dipersiapkan. Obor tak lupa dinyalakan. Sang ketua pertunjukan kembali menghentakkan pecut. Tanda sang penari untuk ke tengah lapangan dan mulai menyiram beberapa anggota tubuhnya dengan minyak tanah.

Kedua lengan penari sudah terbasuh minyak tanah, sang ketua lalu menyodorkan obor api. Buzz, seketika api menyambar di lengan penari. Api merah itu menyala-nyala. Tak sedikit pun sang penari meringis kesakitan. Ia membiarkan api melumat tangannya hingga padam.

Penonton riuh bersorak. Pecut pun kembali dihentak. Sang penari kembali menari. Perlahan kesadarannya mulai pulih. Ia pun menari dengan gerak lambat, sementara kru lainnya mulai memainkan atraksi sembur api sebagai atraksi perpisahan. Penanda pertunjukkan telah usai.

Sebagai sebuah atraksi yang penuh mistis dan bahaya, Kuda Lumping tidak bisa dimainkan sembarang orang. Biasanya pertunjukkan ini mewakili sebuah perguruan ilmu kebatinan. Namun seiring perkembangan zaman, atraksi Kuda Lumping ini semakin hilang.

Di Jakarta, sudah tak lagi didapati atraksi ini. Tanah lapang berganti dengan perumahan. Para pemainnya juga sudah tergerus usia dan tak ada re-generasi. Namun di beberapa daerah di Pulau Jawa, seperti di Jawa Timur, atraksi Kuda Lumping masih dimainkan di waktu-waktu tertentu. (Adfi)

Berita sebelumyaIni Pesan Ahok dari Jeruji Besi
Berita berikutnyaKim Kardashian dan Kanye West Pisah?