Kanibalisme Suku Tolai, Bentuk Kebanggaan dan Kekuatan

0
727

Tentu sudah tidak asing dengan istilah kanibal. Kanibal merupakan istilah bagi perilaku orang yang tidak wajar di mana suka memakan daging manusia. Meskipun pada masa sekarang ini jarang sekali ditemui perilaku kanibalisme ini, namun pada zaman dahulu banyak kisah yang menjelaskan perilaku kanibalisme dari suku-suku kuno yang tinggal di pedalaman.

Alasan dari mereka memakan sesama manusia adalah karena ritual, kebanggaan dan alasan kesehatan serta kekuatan. Dipercaya, bahwa ketika suku mereka menang dalam berperang, maka lawan yang tertangkap dan masih hidup akan mereka kuliti hidup-hidup, kemudian dibakar atau di rebus, lalu mereka makan ramai-ramai dalam sebuah upacara ritual, sedangkan tengkorak kepalanya mereka taruh di sebuah tempat sebagai tanda kemenangan.

Salah satu suku kanibal ialah suku tolai, walaupun sebagian besarnya tinggal di Papua New Guine tapi ada sebagian kecil suku tolai yang hidup di perbatasan antara wilayah Papua dengan Indonesia.

Suku Tolai pernah melakukan pembunuhan terhadap seorang misionaris Inggris pada abad ke 19 dan pada tahun 1978. Mereka membunuh menteri dan tiga orang guru dari negera Fiji, yang kemudian dimasak dan dimakan beramai-ramai.

Dengan kejadian tersebut membuat semakin terkuaknya kanibalisme suku tolai, diketahui juga bahwa suku tolai telah meminta maaf kepada pemerintah Papua New Guine atas perbuatan kanibalisme mereka.

Adapun suku kanibal lainnya yang tinggal di Papua adalah Suku Korowai yang mendiami dataran rendah di sebelah selatan Papua ini, hidup di sepanjang aliran sungai dan rawa-rawa. Suku Korowai juga seperti suku-suku di Papua kebanyakan, hidup nomaden atau berpindah-pindah tempat serta mengandalkan hidupnya dari alam. Karena daerahnya yang cukup subur, menjadikan mereka harus sering berperang dengan suku lain.

Dalam berperang, mereka kerap menggunakan racun pada anak panah dan mata tombak yang  terbuat dari tulang berulang. Kebiasaan mereka saat memakan daging manusia bukan secara sembarangan, tetapi karena korban kerap melakukan pelanggaran adat, kemudian ditangkap dan diadili setelah diputuskan bersalah maka korban akan di ritualkan dan dimakan bersama-sama. Diketahui bahwa keberadaan mereka masih ada hingga saat ini. (Ahmad)

Berita sebelumyaInilah Sanksi untuk Manahati Si Kapten tempramental
Berita berikutnya5 Pelatih Itali yang Sukses Bawa Juara di Liga Inggris