Masa Tanggap Darurat Berakhir, Perlu Rp 10 T Lebih Rekonstruksi Palu

0
15
Foto: sulawesi24.com

Masa tanggap darurat bencana yang berakhir setelah satu bulan pasca bencana pada Jumat (26/10) ini. Kepala BNPB Williem Rampangilei melihat kondisi masyarakat sudah kondusif sehingga kita tidak perlu melanjutkan tanggab darurat, kita masuk ke tahap transisi darurat menuju pemulihan dan rekontruksi

Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana. Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen. Jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen. Begitu juga dengan pasokan listrik.

Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen. Beberapa daerah memang aliran listrik belum berfungsi di Kabupaten Donggala seperti di sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjungdan Sirenja sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi.

25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi melalu 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU.

Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali. Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah.

“Untuk mengefektifkan proses belajar mengajar sudah dibangun tenda-tenda ruang kelas darurat sebanyak 1.467 kelas darurat, tenda yang sudah dibangun 1.043, masih kekurangan tenda 423 Tenda,” kata Kabag Humas Pemprov Sulteng, Adiman, Kamis (25/10/2018).

Selain infrastruktur untuk pendidikan yang sedang dikebut. Satgas juga mengupayakan penambahan tenaga medis untuk ditempati di rumah sakit dan puskesmas yang sudah beroperasi.

“Saat ini fungsi Rumah RS sudah dapat berfungsi dan juga Puskesmas sudah dapat berfungsi tetapi untuk tenaga medis organik supaya dapat difungsikan dengan baik dan kedepan kementrian akan menugaskan tim pendampingan kesehatan,” ujarnya.

Tercatat 2.256 orang meninggal dunia. Sebarannya di Kota Palu 1.703 orang meninggal dunia, Donggala 171 orang, Sigi 366 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban sudah dimakamkan. Sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Banyak bangunan dan infrastruktur yang hancur akibat bencana. Kerusakan meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya. Data tersebut adalah data sementara, yang akan bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan.

Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB terus melakukan pendataan dan melakukan kaji cepat untuk menghitung dampak bencana. Hasil perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana berdasarkan data per 20/10/2018, mencapai lebih dari 13,82 triliun rupiah. Diperkirakan dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini akan bertambah, mengingat data yang digunakan adalah data sementara.

Diperkirakan untuk membangun kembali daerah terdampak bencana nantinya pada saat periode rehabilitasi dan rekonstruksi akan memerlukan anggaran lebih dari Rp 10 triliun. Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, namun Pemerintah dan Pemda akan siap membangun kembali nantinya.

Berita sebelumyaLagi Tren, Minuman Kekinian Ini Bikin Greget
Berita berikutnyaNadia Purwoko Sabet 2nd Runner Up Miss Grand International 2018